top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Kekuatan di Balik Kelemahlembutan PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Wednesday, 23 August 2017 02:57

 “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi” (Matius 5:5).

 

Kepada orang yang lemah lembut hatinya Allah memberikan bumi sebagai warisan mereka. Mengapa Allah mewariskan bumi kepada orang yang lembut hatinya? Karena bumi akan aman di tangan orang yang lembut hatinya. Kita tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika bumi ada di tangan orang yang kasar dan kejam, yang suka melakukan kekerasan? Bumi akan segera hancur dan binasa di tangan mereka.

 

Allah memberikan kuasa dan otoritas kepada orang percaya yang lemah lembut. Ini karena orang percaya yang lemah lembut memiliki keserupaan dengan Anak Allah. Tuhan Yesus mengatakan: “Karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29). Dan keserupaan mendatangkan kuasa dan otoritas atas ciptaan di bumi (Kejadian 1:26). Jadi, ada kuasa dalam kelemahlembutan.

 

Berfirmanlah Allah: Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa (atas segala mahluk di bumi)” (Kejadian 1:26).

 

Kelemahlembutan didefinisikan sebagai sifat yang halus, sabar dan tabah. Ini adalah karakter Kristus Yesus (Galatia 5:22-23). Dan karakter Yesus menyenangkan hati Allah Bapa (Matius 6:17).

 

“Inilah Anak-Ku Yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17).

 

Itulah sebabnya mengapa Allah Bapa juga sangat berkenan kepada orang percaya yang lemah lembut, karena mereka memperagakan karakter Kristus; mereka memiliki keserupaan dengan Anak Allah (Roma 8:29).

 

“Sebab semua yang dipanggil-Nya dari semula, mereka juga ditetapkan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29).

 

Dan jika Allah berkenan dengan seseorang Ia akan berada di pihak-Nya (Roma 8:31). Dan jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang dapat melawan kita? Jadi, ada kekuatan Allah di belakang kelemahlembutan.

 

Musa adalah orang yang lembut dari antara manusia di bumi (Bilangan 12:3); demikian kata Firman Alah. Ia tidak melawan kakaknya Miriam ketika Miriam menuduhnya dan melawannya. Musa tidak mengatakan sepatah katapun untuk membela dirinya dari tuduhan kakaknya. Ia mempercayakan masalahnya ke tangan Allah, dan kita tahu kemudian apa yang terjadi dengan Miriam. Allah ada di pihak Musa untuk membelanya. Ada kuasa Allah di belakang orang percaya yang lembut hatinya.

 

Orang percaya yang lemah lembut tidak akan menggunakan kekerasan untuk membela haknya, tetapi mempercayakan dirinya dan segala sesuatu kepada Allah yang menghakimi dengan Adil (1 Petrus 2:23). Ini adalah apa yang Yesus demonstrasikan ketika Ia di bumi: Ketika Ia dicela dan dihina, Ia tidak balik mencela; ketika Ia disiksa dan menderita, Ia tidak membalas dengan ancaman.

 

Meskipun Kristus memiliki otoritas dan kuasa, bahkan untuk memerintahkan 12 pasukan malaikat (kurang lebih 80.000) untuk membela-Nya, tetapi Ia tidak melakukannya (Matius 26:53). Ia tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan-Nya. Itu adalah kelemahlembutan. Kepada orang percaya yang seperti itu Allah akan menunjukkan kekuasaan-Nya untuk melindungi dan membelanya. Ada kekuatan yang luar biasa di balik orang percaya yang lemah lembut; itulah kuasa perlindungan dan pembelaan Allah. Jika kita tahu Allah membela kita, dan pembelaan-Nya lebih dari cukup, untuk apa kita membela diri?

 

Kelemahlembutan didefinisikan sebagai sikap halus, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Ini adalah diplomasi halus yang tulus. Jika digunakan dengan bijaksana dan di bawah urapan Roh Kudus, kelemahlembutan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi orang-orang.

 

“Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan, dan lidah (perkataan) lembut dapat mematahkan (penolakan sekeras) tulang” (Amsal 25:15).

 

Daniel, Nehemia dan Ester adalah contoh yang baik. Mereka berhasil mempengaruhi raja (penguasa) untuk mengubah keputusan mereka yang merugikan dan dapat mencelakakan bangsa Israel. Bayangkan apa yang orang-orang Kristen dapat lakukan, dengan kelemahlembutan, jika mereka dapat mempengaruhi para penguasa untuk kepentingan Kerajaan Allah?

 

Lihatlah apa yang raja Darius lakukan karena pengaruh Daniel? Raja Darius mendeklarasikan: “Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selamanya … “ (Daniel 6:26); atau raja Koresy yang mengumumkan agar umat Israel dapat kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci (2 Tawarikh 36:23); atau raja Arthasasta yang dipengaruhi ratu Ester untuk membuat keputusan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi dari pemusnahan (Ester 9:1).

 

Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa orang yang lembut hatinya akan memiliki bumi. Ada kuasa untuk mempengaruhi para penguasa dan mengubah situasi untuk keuntungan Kerajaan Allah di bumi.

 

Kelemahlembutan adalah karakter Yesus ketika Ia berjalan di bumi. Itulah yang membuat Yesus dicintai orang banyak, meskipun sejumlah orang munafik membenci-Nya. Hati-Nya yang lembut membuat-Nya memiliki empati yang luar biasa atas orang-orang yang dalam kebutuhan. Ia menyembuhkan orang yang sakit dan mereka yang dirasuki oleh roh-roh jahat. Ia memberi makan orang banyak yang lapar, melepaskan wanita yang hendak dihukum rajam, bergaul dengan orang-orang yang disingkirkan (dikucilkan) para pemimpin agama dan memberi mereka pengharapan. Tidak heran jika orang-orang mencintai-Nya. Ia adalah Raja yang lemah lembut.

 

“Katakan kepada puteri Sion, ‘Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut, dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Matius 21:5).

 

Dan orang banyak yang sangat besar jumlahnya membentangkan pakaian mereka di jalan. Orang-orang banyak berjalan di depan-Nya dan mereka yang mengikuti-Nya dari belakang berseru-seru, kata mereka: “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Hosana di tempat yang mahatinggi!” Dan ketika Ia memasuki Yerusalem, gemparlah seisi kota itu (Matius 21:8-10).

 

Kelemahlembutan mengandung kuasa. Kuasa untuk mempengaruhi dengan baik orang-orang untuk maksud Kerajaan Allah. Mereka yang memiliki kedudukan sebagai pemimpin harus belajar untuk memimpin orang-orang dengan kelemahlembutan dan kerendahan hati. Yesus tidak mengajar kita untuk menguasai orang-orang dan memperhamba mereka ketika kita memimpin sebagai delegasi otoritasnya Tuhan (Lukas 22:25-26). Yesus mengajar kita untuk memimpin dengan kelemahlembutan dan kerendahan hati, dan bergantung sepenuhnya kepada hikmat dan otoritas yang diberikan Allah melalui urapan Roh-Nya.

 

“Belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati: dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

 

Kelemahlembutan membuat kita memiliki kesabaran dan ketabahan. Dan kesabaran serta ketabahan adalah kekuatan: kekuatan untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan situasi yang Allah ijinkan terjadi di dalam hidup kita, meskipun itu tidak sesuai dengan harapan. Ini adalah kekuatan untuk mengendalikan diri sendiri; kekuatan untuk menanggung penderitaan hari ini demi hari esok yang lebih baik.

 

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16:32).

 

Hari ini mungkin gelap, dan besok bisa lebih gelap lagi, tetapi setelah itu ada matahari bersinar. Sayangnya banyak orang menyerah sebelum melihat matahari bersinar. Kita memerlukan kesabaran dan ketabahan agar kita dapat melihat matahari bersinar. Jangan menyerah! Seandainya saja Yudas mau menunggu sampai Kristus bangkit, seperti Petrus, mungkin ia menerima pengampunan dan belas kasihan Kristus seperti Petrus. Tetapi sayangnya ia bunuh diri.

 

Kita sebentar lagi tiba di Tanah Perjanjian. Jika kita cukup sabar maka kita akan masuk ke Tanah Perjanjian. Tanah Perjanjian hari ini adalah tahap kehidupan Kekristenan kita di mana kita menikmati apa yang Allah telah janjikan kepada kita: semua yang telah Ia sediakan, yaitu yang tidak pernah didengar telinga kita ataupun dilihat oleh mata kita, bahkan yang pernah timbul dalam pikirkan kita (1 Korintus 2:9).

 

Jadi, kelemahlembutan yang meliputi kesabaran dan ketabahan adalah kekuatan batin; kuasa yang bekerja di dalam kita untuk membangun kekuatan batin kita. Kita memerlukan ini agar kita mewarisi bumi sebagaimana yang Allah janjikan kepada orang percaya yang lemah lembut: karena ini adalah keserupaan dengan Kristus yang lemah lembut.

 

Sekarang kita mengerti mengapa Kristus mengajak kita untuk belajar dari-Nya, untuk mengikuti teladan-Nya, untuk memiliki kelemahlembutan dan kerendahan hati, karena ada kuasa dan kekuatan yang luar biasa di dalamnya. Kita dapat meringkaskan kuasa kelemahlembutan sebagai berikut:

 

1.     Kelemahlembutan adalah karakter Kristus. Ketika kita memiliki kelemah-lembutan kita memiliki keserupaan dengan Kristus. Dan kuasa Allah datang bersama dengan keserupaan dengan Anak-Nya. Ini adalah kuasa kelemah-lembutan.

2.     Dalam kelemahlembutan berarti kita tidak menggunakan kekerasan untuk membela hak kita. Kita tidak menyalahgunakan kuasa yang Allah berikan kepada kita. Kita tidak membalas atau mengancam orang yang menyakiti kita. Kita mempercayakan masalah kita kepada Allah dan bergantung kepada-Nya yang menghakimi dengan adil. Dan kuasa Allah akan ada di pihak kita. Ini adalah kuasa kelemahlembutan.

3.     Dengan kelemahlembutan kita bisa membujuk penguasa, mematahkan penolakan yang keras, mempengaruhi banyak orang bagi kepentingan Kerajaan Allah. Ini juga adalah kuasa dalam kelemahlembutan.

4.     Dan kelemahlembutan adalah kuasa yang memberikan kekuatan batin – kesabaran dan ketabahan – untuk menanggung situasi yang Allah ijinkan terjadi dalam hidup kita, sampai krisis berlalu dan kemenangan terbit. Dan ini juga adalah kekuatan dari kelemahlembutan.

 

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ada kekuatan dan kuasa di dalam kelemahlembutan: kekuatan dan kuasa yang menenangkan, melegakan dan menyegarkan jiwa. Pemazmur bahkan mengatakannya sebagai “kedamaian yang berlimpah” (Mazmur 37:11).

 

Perasaan tenang menunjukkan bahwa seorang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menerima dan menyesuaikan dirinya dengan keadaan, dan memiliki kekuatan dan kuasa untuk menanganinya (Filipi 4:13). Dan Kristus menunjukkan jalan atau cara untuk memiliki kekuatan itu, yaitu dengan memiliki kelemahlembutan dan kerendahan hati Kristus.

 

Sebaliknya, orang bandel, tegar tengkuk, sombong dan tinggi hati tidak akan pernah merasakan ketenangan. Proses mereka akan keras dan mereka harus menderita peremukan berulang-ulang. Sebagaimana yang dikatakan Tuhan: “Barangsiapa meninggikan diri (dengan kesombongan dan keangkuhan yang kosong) akan direndahkan” (Matius 23:12; Amplified Bible).

 

Kesombongan dan keangkuhan akan selalu membuat orang penuh perasaan iri hati. Dan ini selalu membawa ketidakpuasan. Kesombongan dan keangkuhan akan selalu membuat orang kuatir akan posisi mereka dan menyebabkan keresahan. Jadi, kekerasan hati dan kesembongan tidak akan memberi ketenangan atau kedamaian.

 

Pada kenyataannya, kekerasan hati dan kesombongan, yang adalah kebalikan dari kelemahlembutan dan kerendahan hati akan membuat orang rentan dan rapuh terhadap kehancuran dan kejatuhan. Jadi sebenarnya orang yang keras hati dan tinggi hati adalah orang yang lemah. Kekuatan mereka adalah kekuatan daging yang dapat hancur. Tidak ada kekuatan sejati di dalamnya, karena kuasa Allah tidak ada di dalamnya, bahkan kuasa Allah melawannya. Tuhan menentang orang sombong. Mereka seperti rumput, dan kemuliaan mereka seperti bunga rumput, yang hari ini tumbuh di padang tetapi besok akan segera layu dan dibuang ke dalam api. Mereka tidak akan mewarisi bumi.

 

“Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan akan mewarisi negeri. Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah” (Mazmur 37:9-11).

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Penebusan: Transaksi Terbesar dan Termahal Sepanjang Sejarah

Transaksi terbesar dan termahal sepanjang sejarah adalah ketika Allah menebus umat manusia. Allah Bapa membayar harga yang sangat mahal yang pernah Ia lakukan, yaitu dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal untuk turun ke dunia menebus manusia (Yohanes 3:16). Anak Allah turun ke dalam dunia, dilahirkan sebagai manusia: itulah Natal yang pertama.

 

 

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud (Lukas 2:11).

 

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday716
mod_vvisit_counterYesterday1642
mod_vvisit_counterThis week8139
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month19852
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll914027

People Online 22
Your IP: 54.196.182.102
,
Now is: 2017-12-15 10:10



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.