top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


PERTEMUAN KBN November 2017 (Talkshow) : Minggu, 26/11/2017 Pk 17.00," Antisipasi Keadaan 2018, oleh : Bapak Ir. David Kurniadi " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Mujizat dalam Bersyukur PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 06 November 2017 04:59

Ada satu hal yang tidak dapat dilakukan oleh para malaikat tetapi yang orang percaya dapat lakukan, yaitu mengucap syukur kepada Tuhan. Para malaikat hanya menyaksikan saja dan mereka takjub dengan ucapan syukur kita karena mereka tidak menerima dan mengalami apa yang kita telah terima dan alami. Orang percaya telah menerima banyak anugerah dari Allah yang tidak pernah diterima para malaikat.

 

Para malaikat lebih ahli dalam memuji dan menyembah Tuhan, karena mereka secara langsung menyaksikan kedahsyatan dan kemuliaan Tuhan di sorga, yang kita, orang yang hidup di dunia tidak melihatnya seperti mereka melihatnya, Tetapi meskipun mereka menikmati kenyataan yang luar biasa, mereka tidak pernah mengenal anugerah dan kemurahan Allah, sebab mereka tidak pernah ditebus seperti kita. Tuhan Yesus tidak mati untuk mereka. Mereka tidak pernah mengalami penebusan dan pengampunan dosa seperti kita. Itulah sebabnya hanya orang-orang tebusan yang mengerti tentang bersyukur kepada Tuhan. Sedang bagi para malaikat bersyukur adalah hal yang asing.

 

Sebaliknya, Iblis dan para malaikatnya tidak pernah mau memuji dan menyembah Tuhan. Meskipun mereka secara langsung menyaksikan kedahsyatan dan kemuliaan Tuhan, dan mereka gemetar (Yakobus 2:19), tetapi mereka membenci Tuhan dan iri hati terhadap manusia. Mereka penuh kebencian dan dendam. Ini karena Iblis dan para malaikatnya memberontak melawan Allah (Yesaya 14:12-15). Mereka penuh dengan niat jahat untuk merusak dan menghancurkan segala yang dibuat Allah (Yohanes 10:10). Mereka membengkokkan kebenaran, menyesatkan manusia (Yohanes 8:44), menciptakan tragedi, memfitnah Allah dan mendakwa orang-orang tebusan siang dan malam di hadapan Tuhan (Wahyu 12:10). Jadi bagi mereka mengucap syukur adalah hal yang janggal dan aneh.

 

Kita, orang-orang Kristen, yang telah ditebus, memang seharusnya selalu mengucap syukur kepada Tuhan (1 Tesalonika 5:18). Ada sangat banyak sekali alasan mengapa kita harus mengucap syukur kepada Tuhan. Kita hanya dapat membicarakannya beberapa saja sekarang. Tetapi sayangnya banyak orang Kristen bahkan tidak menghargai apa yang Tuhan telah kerjakan dan menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Tetapi marilah kita mengingat beberapa hal yang Tuhan telah kerjakan, dan kita akan melihat bahwa itu bukanlah perkara yang biasa, tetapi sesungguhnya sangat berharga, mulia, penting, bahkan menentukan keselamatan kita.

 

Pertama: Kasih dan belas kasihan Allah kepada kita.

 

Kita sepatutnya mengucap syukur atas kasih dan belas kasihan Allah kepada kita.

 

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” demikianlah kata Firman Allah (Yohanes 3:16). Allah secara khusus menyatakan kasih-Nya yang luar biasa kepada manusia. Kita tidak pernah mendengar pernyataan kasih seperti itu diberikan kepada para malaikat, tetapi sebaliknya kepada manusia yang semuanya telah berdosa (Roma 3:23).

 

Dan Allah tidak hanya berucap saja bahwa Ia mengasihi kita. Ia membuktikan kasih-Nya dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal dan Kekasih. Ia mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan penghukuman kekal (Yohanes 3:17). Tetapi ketika Allah memberikan Anak-Nya, itu juga berarti Ia memberikan segalanya bagi kita. Ia tidak menahan apapun yang baik dan berguna bagi kita.

 

“Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, melainkan telah menyerahkan-nya bagi kita semua – bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:32).

 

Yesus, Anak-Nya, juga mengasihi kita dengan kasih yang luar biasa. Ia bukanlah “korban” kasih Allah kepada manusia, karena Ia sendiri dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya untuk mati di kayu salib sebagai ganti kita supaya kita boleh menerima pengampunan dosa dan keselamatan kekal.

 

“Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih dari seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku … “ (Yohanes 15:13).

 

Para malaikat takjub dengan kasih Allah kepada orang berdosa, dan Iblis sangat iri hati melihat ini. Tetapi manusia yang menerimanya, sebagian tidak percaya dan sebagian berpikir itu hal yang biasa-biasa saja. Tetapi bagi mereka yang menyadarinya, mereka sangat bersukur atas anugerah dan belas kasihan yang mereka terima.

 

Ketika perang Korea, banyak orang melarikan diri dari daerah utara ke selatan. Pada waktu itu adalah musim dingin dan temperatur turun di bawah nol derajat. Pada waktu itu ada seorang wanita yang sedang hamil dan telah tiba saatnya untuk melahirkan bayinya. Ia berada di antara para pengungsi yang sedang berjalan ke selatan. Ia mencari tempat untuk melahirkan bayinya, tetapi tidak ada tempat selain di kolong jembatan. Jadi ia melahirkan bayinya di situ tanpa pertolongan siapapun. Musim dingin pada waktu itu sangat dingin dan ia tidak memiliki apapun untuk menyelimuti bayinya yang baru lahir. Jadi ia melapaskan mantelnya dan menyelimuti bayinya. Ia memeluk bayinya erat-erat dan berusaha menghangatkan bayinya, sementara ia sendiri tubuhnya sangat lemah. Akhirnya ia tidak dapat bertahan dan meninggal. Bayinya terus menerus menangis di pelukannya dan seorang tentara Amerika yang sedang melewati jembatan itu mendengarnya. Ia turun ke kolong jembatan dan menemukan bayi itu bersama dengan ibunya yang telah meninggal.

 

Ia mengambil bayi itu dan mengangkatnya menjadi anaknya sementara ia menguburkan ibunya di suatu tempat. Beberapa waktu kemudian tentara Amerika itu menjadi seorang penginjil di Korea Selatan dan tinggal di sana bersama anak angkatnya, seorang anak perempuan. Suatu hari, anak perempuan itu menanyakan tentang ibunya kepadanya. Dan ia menunjukkan kuburan ibunya serta menceritakan kisah ini kepadanya. Meskipun anak itu tidak pernah melihat ibunya tetapi ia tahu bahwa ibunya sangat mengasihinya karena ia telah menyerahkan nyawanya baginya supaya ia dapat hidup.

 

Kedua: Keselamatan melalui penebusan.

 

Di kayu salib, Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya sebagai ganti kita supaya kita dapat memiliki hidup yang kekal. Ia mencurahkan darah-Nya untuk menebus kita dari perbudakan dosa supaya menjadi milik-Nya sendiri (Wahyu 5:9). Kita, yang tadinya menuju neraka dan penghukuman, sekarang telah ditebus dan  dibebaskan dari hukuman kekal neraka:

 

“Demikianlah sekarang tidak ada lagi penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1).

 

Para malaikat tidak mengenal sama sekali hal keselamatan dan penebusan. Mereka tidak pernah ditebus. Mereka senantiasa dan untuk selamanya bersama dengan Allah di Sorga. Mereka takjub dengan anugerah keselamatan yang diterima manusia. Mereka tidak pernah mengenalnya. Tetapi Iblis sangat murka dan iri hati melihat orang berdosa menerima pengampunan dan keselamatan melalui iman di dalam Kristus Yesus. Jadi kita patut bersyukur kepada Allah untuk penebusan kita; untuk pengampunan dosa; untuk anugerah keselamatan yang tidak pernah dirasakan oleh para malaikat.

 

Ketiga: Pengangkatan sebagai anak Allah.

 

Para malaikat sejak semula disebut sebagai anak-anak Allah (Ayub 1:6), dan mereka hidup di Sorga di dekat takhta Allah. Tetapi kita, manusia adalah pendosa (Roma 3:23). Kita memberontak terhadap Allah dan tidak manaati Dia (Yesaya 53:5-6). Kita tidak layak untuk menjadi anak-anak Allah. Kenyataannya kita adalah seteru Allah (Roma 5:10; 8:7). Tetapi oleh anugerah Allah di dalam Kristus, kita dibenarkan oleh iman di dalam Dia (Roma 3:24), dan diangkat (diadopsi) menjadi anak-anak-Nya (Yohanes 1:12). Allah mengubah status kita.

 

Kita sebenarnya tidak layak menerima kehormatan ini, tetapi Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi. Itulah yang Allah telah karuniakan bagi kita di dalam Yesus. Terlebih lagi, kita dijadikan ahli waris; kita memiliki hak legal untuk menerima segala sesuatu yang Allah telah sediakan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:17) dan kita bahkan diijinkan untuk memanggil Allah: Bapa! (Roma 8:15). Betapa hebatnya keistimewaan yang kita terima ini!

 

Para malaikat takjub, terkagum dan heran dengan kasih dan kebaikan Allah. Bukan hanya karena Ia telah mengadopsi manusia berdosa untuk menjadi anak-anak-Nya, tetapi juga karena menjadikan mereka ahli waris, dan diberi hak yang tidak pernah diterima oleh para malaikat. Dan sekarang Iblis semakin iri hati. Itulah sebabnya mengapa ia sangat membenci orang percaya, karena Allah mengasihi mereka dengan kasih yang sangat luar biasa.

 

Tetapi banyak orang Kristen tidak menyadari keistimewaan yang mulia ini. Mereka hidup tidak sesuai dengan status mereka sebagai anak-anak Allah, tetapi seperti orang-orang yang hidup di luar anugerah Allah; hidup duniawi dan dalam hawa nafsu dosa (1 Yohanes 2:15-16). Mereka tidak menghargai adopsi mereka.

 

Sebenarnya kita patut bersyukur untuk anugerah Allah yang telah mengadopsi kita untuk menjadi anak-anak-Nya. Kita seharusnya berterima kasih ketika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah dan ahli waris-Nya.

 

Keempat: Pembatalan hutang dosa

 

Setiap kali seseorang berbuat dosa, itu menjadi hutang baginya. Jika ia tidak menyelesaikan dosa-dosanya di hadapan Tuhan, hutang dosanya akan bertumpuk. Dan jika hutang itu tidak dibatalkan maka Iblis akan mengklaim orang itu sebagai budaknya. Kenyataannya orang berdosa adalah budak dosa; mereka hidup dalam perbudakan (Roma 6:16).

 

Tuhan memberikan sebuah ilustrasi tentang nilai hutang dosa yang tidak mungkin dapat diselesaikan oleh orang itu sendiri. “Tidak seorang pun dapat membayar harga penebusan jiwanya. Itu terlalu mahal untuk dibayar,” demikian kata Pemazmur (Mazmur 49:8-9). Tetapi kebanyakan orang tidak menyadari betapa besar hutang dosanya. Mereka dengan mudahnya bertanya, “Apa dosa saya? Memang apa yang telah saya perbuat?” Mereka tidak dapat mengukur beban dosa mereka. Mereka menganggapnya ringan, sementara sebenarnya itu sangat berat untuk ditanggung oleh mereka. Jadi, Tuhan memberikan ilustrasi seberapa besar beban hutang dosa manusia, untuk menyadarkan orang tentang beban tak tertanggungkan dari dosa mereka.

 

Itu adalah seperti seorang yang berhutang 10.000 talenta emas (Matius 18:24). Marilah kita menghitungnya dengan nilai hari ini. Satu talenta adalah 6.000 dinar. Dan pada zaman Yesus satu dinar adalah upah buruh dalam sehari. Jika buruh hari ini bekerja dengan upah minimum Rp. 2.500.000,- per bulan untuk 25 hari kerja per bulan, maka upah seharinya adalah Rp. 100.000,-. Jadi seorang yang berhutang 10.000 talenta adalah setara dengan nilai hari ini kurang lebih Rp. 6.000.000.000.000 atau enam triliun rupiah. Ini adalah nilai hutang dosa terkecil dari seorang yang merasa tidak berdosa dan bertanya, “Saya berdosa apa?”

 

Jika orang itu harus mencicil hutangnya sendiri maka ia harus membayar kira-kira Rp. 164.000.000,- setiap hari selama 100 tahun, jika ia hidup seratus tahun lamanya. Suatu beban hutang yang sangat berat!

 

Tetapi kabar baiknya adalah, “Hati tuan itu tergerak oleh belas kasihannya, dan ia melepaskan orang itu dari hutangnya dan mengampuninya; hutangnya dibatalkan” (Matius 18:27). Haleluya!

 

Karena kasih dan belas kasihan-Nya, Tuhan membatalkan hutang dosa kita. Jadi Ia memerdekakan kita dari ikatan perbudakan dosa dengan membayar harga penebusannya bagi kita (Kolose 2:14). Ia membeli kita, menebus kita, dengan mencurahkan darah-Nya di kayu salib di bukit Golgota (1 Korintus 6:20). Sekarang kita sungguh-sungguh merdeka, karena Anak Allah telah memerdekakan kita (Yohanes 8:36).

“Karena kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, oleh sebab itu muliakanlah Allah dengan tubuh kita dan di dalam roh kita, karena kita sekarang adalah milik Allah” (1 Korintus 6:20).

 

Apa yang perlu kita lakukan adalah datang kepada-Nya dengan penuh penyesalan dan mengakui dosa kita; dengan sungguh-sungguh bertobat dan menerima pengampunan-Nya dengan percaya akan kematian-Nya di kayu salib sebagai ganti kita (1 Yohanes 1:9).

 

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengakui dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (kita)” (1 Yohanes 1: 8-9).

 

Ini sangat memukau para malaikat. Mereka tidak dapat memahami bagaimana hutang yang luar biasa besar itu diampuni dan dibatalkan. Sementara itu Iblis semakin iri hati dan dengki karena ia pasti dihukum (Yohanes 16:11).

 

Oleh karena itu sepatutnyalah kita memberikan syukur sebesar-besarnya kepada Tuhan untuk belas kasihan dan anugerah-Nya (Mazmur 106:1). Kita patut menyerahkan hidup kita kepada-Nya dalam penyerahan total sebagai ungkapan rasa syukur kita: kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah (Roma 12:1). Kita sepatutnya hidup bagi Dia yang telah rela mati ganti kita (2 Korintus 5:15).

 

Kelima: Kesempatan kedua dalam hidup

 

Banyak orang menyesali kehidupan yang mereka sedang jalankan saat ini. Mereka berharap ada kesempatan kedua bagi mereka di mana mereka dapat memulai kembali kehidupan mereka dari awal lagi. Kabar baiknya adalah bahwa di dalam Kristus manusia dapat memiliki kesempatan kedua dalam hidup. Mereka dilahirkan kembali ketika mereka percaya kepada Tuhan Yesus (Yohanes 3:3-8). Roh Kudus dapat mencipta-ulang mereka dan membaharui kehidupan mereka (ayat 6).

 

“Oleh karena itu barangsiapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).

 

Kemuliaan Allah kita adalah dalam hal kemampuan-Nya melupakan semua dosa kita yang telah kita akui dan tinggalkan.

 

“Sejauh timur dari barat, demikianlah dijauhkan-Nya kesalahan kita” (Mazmur 103:12).

 

Allah melupakan dosa kita, tetapi kita memahatkannya di dalam hati dan pikiran kita. Iblis selalu berusaha mengingatkan kita akan dosa-dosa kita dan mendakwa kita siang dan malam di hadapan Allah (Wahyu 12:10). Tetapi Allah telah melupakannya, karena darah Anak-Nya telah menghapusnya (1 Yohanes 1:7) dan menyucikannya seputih salju (Yesaya 1:18).

 

Sekali lagi para malaikat takjub dengan kemurahan Allah yang mengampuni dosa manusia, karena mereka tidak mengenal dosa; mereka hidup suci di Sorga. Dan Iblis pun sangat murka, karena mengetahui bahwa dosanya yang sangat besar tidak akan diampuni selama-lamanya, sebab ia terus memberontak melawan Allah. Baik malaikat maupun Iblis tidak mengenal tentang kesempatan kedua, mereka tidak pernah menerimanya.

 

Supaya kita dibenarkan di hadapan Allah, Anal Allah telah menjadi dosa bagi kita, supaya kita yang berdosa dapat dijadikan benar di hadapan Allah melalui Dia (2 Korintus 5:21).

 

Jadi di kayu salib telah terjadi pertukaran; Kristus menukar dosa-dosa kita dengan kebenaran-Nya. Ia memikul dosa dan kesalahan kita pada tubuh-Nya di kayu salib, dan memberikan kebenaran-Nya untuk kita kenakan sebagai pakaian kebenaran. Kita sepatutnya bersyukur kepada Allah setiap saat karena Kristus melakukan ini supaya kita mendapat kesempatan kedua dalam hidup.

 

Dahulu di China banyak orang kecanduan opium. Pemerintah kemudian mengeluarkan undang-undang yang menghukum keras mereka yang kedapatan menghisap candu: mereka akan ditembak di tempat. Suatu kali ada dua laki-laki bersaudara yang tinggal di satu rumah. Adiknya kecanduan opium. Suatu saat ketika ia sedang menghisap candu di tempat yang remang, polisi melihatnya dan menembak dia dari jarak jauh dan peluru mengenai pundaknya. Ia terluka dan bajunya berlumuran darah, dan ia lari ke dalam rumah untuk bersembunyi. Kakaknya terkejut melihat adiknya tertembak dan berdarah. Ia tahu polisi akan segera datang ke rumahnya untuk mencari adiknya dan akan menembaknya mati. Jadi kakaknya meminta adiknya untuk melepaskan pakaiannya yang berdarah dan menggantinya dengan pakaiannya. Kakaknya mengenakan pakaian adiknya yang berlumuran darah kemudian keluar rumah. Ketika ia baru saja ke luar polisi menjumpainya dan melihat pakaiannya yang berdarah. Polisi yakin bahwa ia adalah orang yang tadi ditembaknya dan langsung menembaknya hingga mati di tempat. Kakaknya bertukar hidupnya dengan adiknya, dan mati menggantikan adiknya untuk menyelamatkan nyawa adiknya. Sang adik mendapat kesempatan hidup yang kedua. Itulah yang Kristus telah lakukan bagi kita. Ia mengambil dosa kita dan menanggungnya dalam tubuh-Nya yang suci, dan sebagai gantinya Ia memberikan kebenaran-Nya bagi kita supaya kita terluput dari kematian kekal di dalam neraka. Kristus melakukan hal ini supaya kita memiliki kesempatan hidup yang kedua.

 

Setelah itu Kristus mengutus Roh Kudus-Nya untuk tinggal di dalam tubuh mereka yang telah ditebus-Nya (Yohanes 14:16-17). Roh Kudus adalah yang meregenerasi roh orang tebusan supaya mereka dapat dilahirkan kembali sebagai ciptaan baru di dalam Kristus (Yohanes 3:5-6). Kehidupan yang lama telah berlalu, dan kehidupan yang baru sudah datang. Ini adalah kesempatan hidup yang kedua yang diterima oleh orang yang mau percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (2 Korintus 5:17).

 

Keenam: Rumah di Sorga

 

Para malaikat tinggal di sorga di sekeliling takhta Allah (Wahyu 5:11). Kita, manusia, untuk sementara hidup di bumi (Mazmur 90:10). Sebagai orang berdosa kita tidak layak untuk tinggal di Sorga, melainkan di neraka. Tetapi oleh kemurahan dan anugerah Allah, Ia mengampuni dosa-dosa kita, dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya.

 

Kepada kita, anak-anak-Nya, Yesus berkata: “Di dalam Rumah Bapa-Ku ada banyak tempat kediaman. Jikalau tidak, tentu Aku telah mengatakannya kepadamu. Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu. Dan jika Aku pergi dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali kepadamu, dan membawa kamu kepada-Ku; supaya di mana Aku berada di situ juga kamu berada” (Yohanes 14:2-3).

 

Wow! Siapakah kita ini sehingga Tuhan menyediakan tempat kediaman bagi kita di Sorga? Kita adalah orang berdosa dan tidak layak untuk memilikinya. Bagaimana mungkin? Tetapi, itulah kemurahan dan kasih karunia Tuhan  kita!

 

Para malaikat menyaksikan ini dengan takjub. Tuhan memerintahkan mereka untuk membangun tempat kediaman bagi kita supaya di mana Tuhan berada, di situ kita berada. Dan Iblis semakin cemburu, karena tempatnya nanti adalah di dalam Neraka, bersama dengan para malaikatnya dan orang-orang yang mengikuti jalannya (Matius 25:41).

 

Ketujuh: Kehadiran Roh Kudus di dalam

 

Tuhan tahu bahwa kita masih memiliki kelemahan dan kekurangan, terutama dalam daging kita (Matius 26:41). Sementara itu kita hidup dalam dunia yang busuk dan penuh dosa yang selalu menarik kita untuk melekat kepadanya (1 Yohanes 2:15-17). Dan Iblis selalu berusaha menggoda kita untuk berdosa. Tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa dirinya kuat dan tidak akan jatuh (1 Korintus 10:12). Tetapi Kristus menyediakan jawabannya bagi kita.

 

Tuhan Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16).

 

Roh Kudus adalah kuasa Allah yang dahsyat (Efesus 1:19). Ia adalah Roh yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati (ayat 20). Ia adalah Roh yang memberi kuasa kepada Yesus selama pelayanan-Nya di bumi (Lukas 4:1). Dan sekarang, Roh yang persis sama Ia utus untuk berdiam di dalam kita, dan menjadikan tubuh kita sebagai tempat kediaman-Nya (1 Korintus 6:19).

 

Roh Kudus memampukan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah sejati, jika kita mengijinkan-Nya untuk memimpin hidup kita (Roma 8:14). Roh Kudus menempakan karakter Yesus (Galatia 5:22-23) di dalam kita supaya kita memiliki keserupaan dengan Anak Allah (2 Korintus 3:18).

 

Dengan Roh Kudus dalam tubuh orang percaya (1 Korintus 6:19), orang percaya bukan hanya mendapatkan kekuatan dari Allah (Kisah Para Rasul 1:8) tetapi juga diperlengkapi dengan karunia-karunia supranatural (1 Korintus 12:7-11) yang akan memberi kepada mereka kekuatan, kemampuan, otoritas dan keberhasilan, sehingga mereka menjadi alat yang efektif bagi Allah.

 

Ini menakjubkan. Walaupun sebagai manusia, orang percaya sedikit lebih rendah dari pada para malaikat, tetapi mereka dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan sebagai anak-anak Allah yang kekasih, dan mereka telah diberi kuasa atas ciptaan Allah (Ibrani 2:7). Betapa luar biasanya kehormatan yang diberikan!

 

Secara jasmani kita lebih lemah dari para malaikat, tetapi secara posisi kita lebih tinggi karena kita adalah mempelai Kristus (Yohanes 3:29): anak-anak Bapa yang kekasih (Roma 8:16).

 

Kita sungguh-sungguh patut bersyukur dengan memberikan ucapan syukur setinggi-tingginya yang dapat kita persembahkan. Para malaikat memuji Bapa karena melihat anugerahnya yang ajaib yang Ia karuniakan kepada orang percaya. Tetapi Iblis makin bertambah cemburu dan dendam.

 

Masih tak terhitung banyaknya alasan bagi kita untuk bersyukur kepadau Tuhan. Itu adalah pilihan kita untuk melakukannya. Kita dapat memberi syukur kepada Tuhan setiap saat dalam situasi apapun, karena selalu ada alasan untuk bersyukur.

 

Tetapi banyak orang Kristen lebih suka mengeluh dan bersungut-sungut kepada Tuhan. Mereka tidak ingat akan kebaikan-Nya: kemurahan dan anugerah-Nya. Mereka lebih memikirkan apa yang mereka tidak punya dan melupakan apa yang mereka punya dan terima dari Allah. Mereka lupa bahwa memiliki Allah adalah memiliki segalanya. Mereka hanya memandang kepada kesulitan dan kesukaran. Tetapi ketika mereka menerima pertolongan dari Tuhan, mereka dengan mudah melupakannya dan menganggapnya ringan.

 

Ingat saja kisah tentang sepuluh orang kusta yang datang kepada Yesus dan memohon untuk disembuhkan (Lukas 17:12-17). Yesus menyuruh mereka untuk pergi kepada imam dan memperlihatkan diri mereka untuk menunjukkan kesembuhannya. Dengan iman mereka pergi kepada imam sebagaimana diperintahkan oleh Yesus. Dan sementara mereka di jalan, mujizat terjadi. Kesepuluh orang kusta itu semuanya sembuh dan mereka pergi ke bait Allah dengan sukacita untuk menunjukkan diri mereka kepada imam. Tetapi satu dari antara sepuluh orang itu kembali kepada Yesus dan tersungkur di hadapan Tuhan dan berterima kasih pada-Nya; ia adalah seorang Samaria. Tetapi kesembilan orang lainnya mereka tidak pernah kembali kepada Yesus untuk berterima kasih.

 

Kisah ini memberikan gambaran yang menyedihkan bahwa hanya sepuluh persen dari orang-orang Kristen yang telah menerima anugerah dan kemurahan Allah yang datang kepada Tuhan dengan ucapan syukur.

 

Orang mudah sekali menggerutu dan bersungut-sungut dari pada mengucap syukur. Lihatlah kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian. Mereka menyaksikan dan mengalami perbuatan-perbuatan ajaib dari Tuhan ketika Allah memerdekakan mereka dari perbudakan mereka yang sangat lama di Mesir. Mereka menyaksikan bagaimana Allah mengedangkan tangan-Nya yang perkasa dan menulahi bangsa Mesir dengan berbagai bencana. Mereka melihat bagaimana Allah mengeringkan Laut Merah untuk membuat mereka dapat menyeberangi laut itu. Mereka mengalami bagaimana Allah berjalan di depan mereka dan menyertai perjalanan mereka dalam bentuk tiang awan di siang hari yang terik dan tiang api di malam yang dingin. Tetapi sebagai balasannya apa yang mereka lakukan terhadap Tuhan? Mereka menggerutu, bersungut-sungut setiap waktu di sepanjang perjalanan mereka. Mereka tidak mengucap syukur kepada Tuhan atas semua perkara ajaib dan mujizat yang mereka telah terima. Dan apa akibat dari gerutuan dan sungutan mereka? Allah menolak mereka masuk ke dalam Tanah Perjanjian, seluruh generasi yang keluar dari Mesir mati selama perejalanan mereka di padang belantara sebelum mereka masuk ke Tanah Perjanjian.

 

Sungutan dan gerutuan hanya mengundang “malaikat maut” (si perusak: the destroyer: terj. Inggris 1 Korintus 10:10) yang menghancurkan masa depan, menggagalkan janji Allah yang seharusnya terjadi bagi kita, mengancurkan iman dan pengharapan, dan merusak hubungan kita dengan Allah. Tetapi ucapan syukur membangkitkan iman dan pengharapan, menciptakan atmosfir yang positip, dan membuat Allah semakin ingin melakukan mujizat dan keajaiban dalam hidup kita. Ucapan syukur membangun hubungan kita dengan Allah yang semakin kuat dan erat.

 

Ucapan syukur dapat menciptakan mujizat. Ingatlah kisah raja Yosafat, ketika kerajaannya diserang oleh bangsa-bangsa di sekelilingnya (2 Tawarikh 20:1-22). Ia sangat ketakutan lalu memutuskan untuk mencari pertolongan dari Tuhan. Kemudian Tuhan, melalui nabi-Nya, menjawab doanya dan menguatkan dia bahwa Tuhan akan menolong dia menghadapi musuh-musuhnya. Tuhan akan mengambil alih peperangan itu demi umat-Nya. Setelah menerima berita yang menguatkan itu, raja mengatur tentaranya, tetapi ia menempatkan di depan tentaranya paduan suara untuk menyanyikan ucapan syukur kepada Tuhan. Dan tertulis bahwa, ketika mereka menyanyikan syukur bagi Tuhan, Allah membuat penghadangan terhadap musuh-musuhnya sehinga mereka terpukul kalah. Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa ucapan syukur di tengan kesukaran kita akan membuat Allah mau terlibat dalam masalah kita dan mengambil alih masalah itu demi kita.

 

Ketika kita bersyukur kepada Tuhan di tengah-tengah masalah kita, Tuhan akan menyelesaikan masalah-masalah itu bagi kita.

 

Bersyukur kepada Tuhan di tengah kesukaran kita sama dengan “korban syukur” (Ibrani 13:15).

 

“Korban syukur” adalah istilah yang unik karena terdiri dari dua kata yang bertentangan sifatnya. “Korban” adalah kata yang umumnya tidak disukai orang karena merefleksikan perasaan kehilangan, menyakitkan dan kesedihan. Sebaliknya kata “syukur” merefleksikan perasaan yang lebih positip yaitu tentang rasa terima kasih, sukacita, keberhasilan dan kemenangan. Jadi kedua kata yang bertentangan ini sekarang membentuk suatu istilah “korban syukur” yang dapat kita persembahkan kepadaTuhan.

 

Di masa Perjanjian Lama orang Israel membawa korban mereka dalam bentuk hewan. Mereka harus membunuhnya, mencurahkan darahnya, membakarnya di atas mezbah sebagai ungkapan syukur kepada Allah: bersyukur atas kemurahan dan kasih karunia Allah yang telah mereka terima dari-Nya.

 

Tetapi Yesus telah datang sebagai Anak Domba Allah (Yohanes 1:29). Ia mengorbankan diri-Nya sebagai persembahan yang memuaskan hati Allah. Ia adalah korban yang sempurna. Ia menggantikan pengorbanan hewan (Ibrani 10:4-14). Jadi sekarang, di masa Perjanjian Baru di mana kita hidup, kita tidak perlu membawa binatang lagi sebagai persembahan kepada Tuhan. Tetapi bagaimana kita – yang hidup di bawah Perjanjian Baru – dapat tetap mempersembahkan korban syukur kita kepada Allah?

 

Yaitu dengan mengucap syukur sementara kita mengalami kesusahan dan penderitaan (2 Korintus 1:3-4) dan menghargainya sebagai kesempatan untuk menerima kuasa dan kasih karunia Allah (2 Korintus 12:10).

 

Orang cenderung mengeluh dan marah ketika mereka ada dalam penderitaan dan kesusahan, dan bersyukur kepada Allah ketika mereka sehat, kaya dan bahagia. Tetapi ketika kita bersyukur di tengah penderitaaan dan kesusahan kita, kita mempersembahkan diri kita sebagai korban syukur, jadi menjadikan kesusahan dan penderitaan kita sebagai ibadah kita kepada Allah. Dengan demikian kita beribadah kepada Tuhan bukan hanya dengan pergi ke gereja, memuji dan menyembah Dia, tetapi juga dengan bersyukur di tengah penderitaan dan kesusahan.

 

Jika kita mengeluh dan marah ketika kita susah dan menderita, maka kesukaran kita tidak bernilai ibadah, hanya masa-masa buruk, dan tidak ada pahalanya. Tetapi jika kita bersyukur di tengah masalah dan kesusahan, maka masalah dan kesusahan kita jadi bernilai ibadah di hadapan Tuhan, dan Allah akan mempahalainya ganda.

 

Jadi mengucap syukur membuat kesusahan kita bernilai ibadah dan membuat kita menerima pahala dari Allah. Dengan demikian segala keadaan dalam hidup kita menjadi ibadah dan dipahalai. Ketika kita bersyukur di saat baik, itu memang seharusnya, dan dipahalai. Tetapi ketika bersyukur di saat tidak baik, itu adalah korban syukur: suatu ibadah yang akan dipahalai lebih lagi (Yesaya 61:27).

 

Bersyukur kepada Tuhan adalah suatu pilihan; dan itu adalah pilihan  yang baik. Jika kita ingat kisah tentang dua orang bersaudara Rahel dan Lea, kita akan melihat bahwa pada awalnya kelihatannya Rahel lebih beruntung dari pada kakaknya Lea. Rahel lebih cantik, dan Yakub mencintainya lebih dari pada kepada Lea. Lea telah berusaha dengan susah payah untuk mendapatkan cinta Yakub, tetapi ia gagal. Lea hidup dalam banyak kekecewaan, tetapi suatu hari ia memutuskan untuk bersyukur kepada Tuhan tidak peduli dengan keadaan yang ia sedang alami. Jadi ia memberi nama kepada anak keempatnya: Yehuda, karena katanya: “Sekarang aku mau bersyukur kepada Tuhan, meskipun keadaanku kurang beruntung.” Tetapi kemudian kita melihat, setelah ia bersyukur kepada Tuhan, keadaannya mulai berubah. Kita dapat melihat ini dari nama yang ia berikan kepada anak-anaknya setelah itu: Gad artinya “beruntung”, Asher artinya “bahagia,” Isakhar artinya “Allah telah memberikan upah kepadaku” dan Zebulon yang artinya “hadiah.” Itu semua adalah pernyataan yang positip (Kejadian 29-30).

 

Akhirnya, Lea menjadi lebih beruntung dari pada Rahel. Ia dikuburkan bersama nenek moyangnya, Abraham dan Isak, dan akhirnya Yakub dikuburkan bersamanya, sementara Rahel dikuburkan terpisah. Lea melalui Yehuda menjadi bagian dari garis keturunan Mesias: nenek moyang raja Daud dan Yesus Kristus sang Mesias (Matius 1:1-16).

 

Mengucap syukur adalah tanda iman. Ketika kita berdoa untuk apapun dan kita percaya bahwa kita menerimanya – dengan bersyukur kepada Allah – maka kita akan menerimanya (Markus 11:24). Ketika kita bersyukur kepada Allah setelah kita berdoa kepada-Nya, itu adalah tanda bahwa kita beriman kepada-Nya dan percaya bahwa Ia akan mengaruniakan apa yang kita doakan. Tuhan Yesus berkata: “Jadilah menurut imanmu!” (Matius 9:29). Dan rasul Paulus berkata: “Nyatakanlah keinginanmu di dalam doa disertai dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6).

 

Mengucap syukur adalah tanda kemenangan. Ketika Allah mengijinkan kesukaran dan kesusahan untuk menguji kita, tetapi kita meresponnya dengan mengucap syukur, maka Allah akan menyatakan bahwa kita telah lulus ujian dan telah memperolah kemenangan. Itulah pengalaman rasul Paulus ketika ia dipenjara di Filipi. Ia menyangikan lagu pujian kepada Allah di tengah penderitaannya, dan Allah memberikan kepadanya kemenangan dengan melepaskannya dari penjara dan membuat kepala penjara menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya (Kisah Para Rasul 16:24-33). Jika kita selalu memiliki hati yang bersyukur dalam segala keadaan yang kita hadapai maka kita menjadi seorang pemenang karena kita menang atas keadaan.

 

Mengucap syukur akan mengubah atmosfir hidup kita menjadi positip: penuh dengan antusiasme, sukacita dan kemenangan. Hati yang bersyukur akan membangun keintiman dengan Allah, sementara gerutuan dan sungutan akan merusak hubungan dan iman kita kepada Allah.

 

Ada perbedaan antara pujian dan penyembahan yang dipersembahkan para malaikat dengan yang dipersembahkan orang percaya. Para malaikat memuji dan menyembah Allah karena kenyataan luar biasa dahsyat yang mereka lihat dan saksikan di Sorga, sementara orang percaya memuji dan menyembah Tuhan dari rasa syukur mereka karena belas kasihan dan anygerah yang telah mereka terima dan alami di bumi.

 

Untuk hidup bersyukur kepada Tuhan adalah suatu pilihan; itu keputusan kita. Kita bisa memutuskan apakah kita ingin memberikan syukur atau tidak. Bersyukur adalah masalah fokus kita dan pandangan kita. Orang dapat melihat hal yang sama dari perspektif yang berbeda. Raja Saul dan Daud melihat Goliat yang sama, tetapi mereka memiliki perspektif yang berbeda. Raja Saul melihat Goliat sebagai masalah yang sangat besar sehingga membuatnya takut dan kehilangan keberanian. Ia berfokus pada kehebatan Goliat. Tetapi Daud yang melihat Goliat yang sama, ia meremehkannya karena Daud berfokus kepada kehebatan Allah, yang dapat membuatnya mengalahkan Goliat. Jika kita melihat sesuatu dari perspektifnya Allah maka kita dapat memiliki pandangan yang positip dan hati yang bersyukur.

 

Ada banyak cara untuk menyatakan rasa syukur kita. Kita dapat melakukannya dengan bibir kita (Ibrani 13:15) dengan memuji dan menyembah Allah; atau dengan mempersembahkan tubuh kita bagi Allah (Roma 12:2) untuk menjadi alat-Nya; atau dengan kekayaan kita seperti yang pernah dilakukan Zakeus (Lukas 19:6-9); atau dengan melayani orang lain seperti kita melayani Tuhan (Lukas 7:41-47); dan hidup untuk Yesus yang mati bagi kita (2 Korintus 5:15). Marilah kita menjadikan bersyukur sebagai gaya hidup kita.

 

 

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Ketulusan, Barang Yang Mahal dan Langka dalam Bisnis

Ketulusan adalah barang berharga yang sangat langka untuk ditemukan sekarang ini, baik dalam dunia bisnis maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Yesaya 59 : 14 : Hukum telah terdesak ke belakang dan keadilan berdiri jauh-jauh, sebab kebenaran tersandung di tempat umum dan ketulusan ditolak orang. Tipu muslihat Iblis sudah sedemikian mempengaruhi dunia bisnis sehingga kecurangan dan kelicikan seolah-olah menjadi suatu keharusan untuk orang mencapai keberhasilan. Orang yang curang berjaya dan orang yang tulus digilas habis, demikianlah pendapat banyak orang tentang keadaan zaman sekarang.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday717
mod_vvisit_counterYesterday1642
mod_vvisit_counterThis week8140
mod_vvisit_counterLast week9288
mod_vvisit_counterThis month19853
mod_vvisit_counterLast month33558
mod_vvisit_counterAll914028

People Online 23
Your IP: 54.196.182.102
,
Now is: 2017-12-15 10:10



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.