PERTEMUAN KBN 2018 : Minggu, //2018 Pk 17.00," , oleh : " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh Menjadi Lebih dari Pemenang
       

top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


We are sorry to inform, that our visitor counter had a problem. Please ignore. Thank You for attention. Mohon maaf, Visitor Counter kami sedang mengalami gangguan teknis. Mohon diabaikan. Terimakasih.
Menjadi Lebih dari Pemenang PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi for Ps. Yusuf Rahman   
Wednesday, 14 February 2018 10:17

Setiap dan semua orang percaya yang hidup di dunia diperhadapkan dengan “peperangan” (Efesus 6:12) dan “pertandingan” (1 Timotius 6:12) yang telah ditetapkan Allah untuk dihadapi dan dijalani. Kata-kata “lebih dari pada orang-orang yang menang” dalam Roma 8:37 menunjukkan bahwa kita memang berada dalam medan “peperangan” dan “pertandingan,” sebab tidak ada kemenangan jika tidak ada peperangan atau pertandingan.

 

Kita, mau tidak mau harus berperang karena kita memiliki “musuh” yaitu Setan yang selalu akan berusaha menyerang dan menghancurkan kita (Yohanes 10:10a). Meskipun kita tidak ingin memeranginya, Setan tetap akan menyerang dan berusaha membinasakan kita. Jadi, bagi kita tidak ada pilihan selain memeranginya dengan selengkap senjata Allah (Efesus 6:10-17).

 

Tetapi yang luar biasa adalah, bahwa kita telah ditetapkan Allah untuk menjadi pemenangannya (Roma 8:37), meskipun Setan musuh kita begitu kuat dan licik. Ini karena Allah sendiri akan berperang bagi kita (Nehemia 4:20) dan berdiri di pihak kita (Roma 8:31).

 

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37).

 

Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa kita adalah “lebih dari pada orang-orang yang menang” karena kita memenangkan peperangan yang sebetulnya tidak mungkin dimenangkan jika kita berperang dengan kekuatan sendiri. Namun demikian kita bisa memenangannya “oleh Dia yang telah mengasihi kita.” Jadi Allahlah yang memenangkan peperangan (2 Taw. 20:15) dan pertandingan kita karena Ia mengasihi kita.

 

“Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Korintus 15:57).

 

Sebagai orang percaya, kita mau tidak mau harus berperang dan bertanding. Sebab itu Kekristenan yang sejati bukanlah bagi orang yang menginginkan “kenyamanan” dan “kemapanan.” Kenyamanan dan kemapanan hanya akan kita nikmati di sorga kelak ketika kita telah menyelesaikan peperangan dan pertandingan kita dengan baik di dunia (2 Timotius 4:7). Orang yang mau ikut Tuhan karena ingin nyaman dan mapan akan kecewa, lemah dan kalah. Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan kehidupan yang seperti itu. Yang Ia janjikan adalah kemenangan, karena Ia sendiri telah mengalahkan dunia ini (Yohanes 16:33).

 

Yesus juga selama di dunia ini tidak menjalankan kehidupan yang nyaman dan mapan. Ia lahir di kandang. Hidup sebagai anak tukang kayu di kota yang tidak terkenal. Ia mengembara dari kota ke kota, dan dari desa ke desa (Markus 6:6b) untuk memberitakan Injil. Ia sendiri mengatakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20). Ia ditolak, disangka gila, dihina, dikhianati dan disiksa; sungguh suatu kehidupan yang tidak nyaman.

 

Tuhan Yesus mengatakan: “Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:3). Ini bukanlah tawaran hidup dalam kenyamanan apalagi kemapanan. Ini menunjukkan bahwa hidup kita akan penuh “peperangan.” Satu-satunya pilihan kita adalah untuk ikut berperang bersama Tuhan. Inilah satu-satunya pilihan yang “aman” sebab jika Tuhan berperang bersama-sama kita, Tuhan akan berperang bagi kita, dan kita akan menang dari musuh, karena “jika Allah di pihak kita siapakah yang akan (dapat) melawan kita?” (Roma 8:31).

 

Justru keadaan yang paling bahaya adalah ketika kita tidak mau berperang dan ingin hidup nyaman dan mapan, maka kita menjadi sasaran empuk Setan (1 Petrus 5:8). Jika kita tidak berperang bersama-sama dengan Tuhan maka kita sendirian dan Setan akan mudah mengalahkan kita. Meskipun kita tidak mau memerangi Setan, Setan tetap akan memerangi kita, menyerang kita dan berusaha membinasakan kita.

 

Lalu bagaimanakan supaya kita bisa berperang bersama Tuhan dan menang dalam peperangan? Kita harus belajar kepada Tuhan. Kita harus menjadi murid Tuhan; harus mau diajar, dididik dan dilatih oleh Tuhan. Tuhan akan melatih kita sehingga kita mahir  dan perkasa jika kita menjadi murid-Nya.

 

“Yang mengajar tanganku berperang, sehingga lenganku dapat melenturkan busur tembaga” (Mazmur 18:34) 

 

Daud belajar menggunakan umban (katapel) sehingga ia dapat mengalahkan singa dan beruang (1 Samuel 17:34-37). Tuhan melatih Daud sehingga ia memiliki pengalaman iman bersama Tuhan dan memiliki keyakinan dan keberanian untuk menghadapi Goliat dan mengalahkannya (1 Samuel 17:45-46). Daud penuh keyakinan dan keberanian. Ini adalah modal untuk menang dalam pertandingan dan peperangan. Jika kita bimbang dan takut, kita sudah kalah sebelum bertanding maupun berperang.

 

Untuk membangun keyakinan yang benar kita harus membangun iman, dan untuk membangun iman kita harus belajar dari Firman Allah (Roma 10:17) sehingga kita mengerti betul. Keyakinan bukanlah iman, tetapi iman dapat menimbulkan keyakinan, dan keyakinan menimbulkan keberanian. Ini adalah modal kemenangan dalam pertandingan dan peperangan.

 

Dalam Roma 8:31-39, rasul Paulus mengajarkan tentang “keyakinan iman.” Tetapi sebelum ke situ Paulus terlebih dahulu mengajak kita untuk mengetahui posisi kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan dan posisi sikap Tuhan terhadap kita yang menjadi landasan yang kokoh dan benar atas keyakinan iman kita. Ia menjelaskannya dalam Roma 8:28-30. Marilah kita mempelajarinya dengan seksama.

 

Ini dimulai dengan pernyataan “kita tahu sekarang” (Roma 8:28). Ini adalah bentuk pernyataan keyakinan yang sangat positip dan kuat, bukan keyakinan yang hampa. Ada orang percaya diri karena ia memakai barang-barang yang sangat mahal, atau karena memiliki jabatan dan kekuasaan, atau karena memiliki banyak gelar. Kepercayaan diri atau keyakinan seperti itu tidak menjamin kemenangan. Tetapi keyakinan iman kita didasarkan atas mengetahui tentang kebenaran Tuhan: “kita tahu sekarang”! Apa yang kita tahu?

 

“Bahwa Allah turut bekerja”! Haleluya! Kalau Allah turut bekerja pasti hasilnya luar biasa! Bagaimana mungkin orang Kristen hidupnya biasa-biasa bahkan menjadi pecundang jika Allah turut bekerja bersamanya? Apalagi jika Allah turut bekerja “dalam segala sesuatu” artinya dalam segala masalah yang dihadapi, dalam setiap peperangan dan pertandingan yang kita hadapi, maka kita pasti bisa menyelesaikannya dan memenangkannya bahkan secara luar biasa! Bukankah hal ini menimbulkan keyakinan iman bagi kita?

 

Mengapa Allah mau turut bekerja? Karena kita mengasihi Dia dan hidup dalam panggilan sesuai dengan rencana Allah! (Roma 8:28). Itulah yang membuat Allah mau bekerja, yaitu karena kita memiliki komitmen untuk menjalankan panggilan sesuai dengan rencana Allah. Ketahuilah, Allah bekerja dalam kehendak dan rencana-Nya.

 

Jika orang punya komitmen untuk menjalankan rencana Allah, maka Allah akan turut bekerja bersama orang itu sehingga ia akan berhasil. Hal ini kita bisa lihat dari kehidupan raja Koresh, raja negeri Persia. Ia bukanlah raja yang mengenal Allah tetapi ia memiliki komitmen untuk mewujudkan rencana Allah:

 

“Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia” (2 Tawarikh 36:22).

 

Dan sebagai akibatnya Allah mengurapi Koresh dan menyebut Koresh: “hamba-Ku,” serta mendukung dia sehingga berhasil:

 

“Beginilah firman Tuhan: Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja … Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi. Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa Akulah Tuhan, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu … menggelari engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain: kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku” (Yesaya 45:1-3).

 

Luar biasa! Bagaimana mungkin Allah mengurapi seorang raja yang tidak mengenal Dia, memakainya, menggelarinya “hamba-Ku”, menyertainya, mempersenjatainya dan membuatnya berhasil? Itu karena Koresh memiliki komitmen untuk melaksanakan rencana Allah. Koresh hidup dalam panggilan sesuai rencana Allah meskipun ia tidak mengenal Allah. Itulah sebabnya Allah turut bekerja bersama dia dan ia berhasil. Allah kita bukan hanya Allah yang berkuasa atas bangsa Israel tetapi juga Allah yang berkuasa atas bangsa-bangsa.

 

Jika raja yang tidak mengenal Tuhan saja sampai dipakai Allah menjadi alat-Nya dan Allah mau bekerja bersamanya, apalagi kita anak-anak-Nya, orang-orang percaya yang mengenal dan mengasihi Dia. Kita akan mendapatkan lebih banyak lagi keistimewaan dari Allah. Inilah keistimewaan yang kita miliki:

 

Rasul Paulus menuliskan dalam Roma 8:29-30: “Semua orang yang dipilih-Nya dari semula.” Ini adalah status kita sebagai orang percaya. Kita adalah orang-orang yang telah dipilih-Nya dari semula. Allah memilih orang-orang yang percaya kepada-Nya dari antara manusia yang ada di bumi sebagai “umat pilihan Allah” (1 Petrus 2:9).

 

Kita adalah orang-orang yang istimewa karena kita adalah “orang yang pilih-Nya.” Tetapi kita dipilih-Nya bukan karena kita adalah orang yang baik dan istimewa, tetapi karena kasih karunia Allah; karena kebaikan Allah sendiri. Kita tidak istimewa tetapi Allahlah yang membuat kita menjadi istimewa.

 

Paulus melanjutkan: “mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Roma 8:29). Inilah yang menjadikan kita istimewa, yaitu karena kita “ditentukan Allah” atau “ditakdirkan” untuk menjadi “serupa dengan Kristus, Anak Allah.”

 

Jika Allah telah menentukan, maka kita akan menjadi seperti yang Allah tentukan. Jika Allah menentukan seekor binatang adalah singa, maka binatang itu menjadi singa seperti yang Allah tentukan. Jika kita ditentukan serupa dengan gambaran Anak-Nya maka kita akan menjadi seperti Anak-Nya, kecuali jika kita menolaknya atau tidak mempercayainya.

 

Sebagai anak-anak Allah, maka memang kita harus menjadi serupa dengan gambaran Kristus Anak-Nya. Bukan keserupaan dalam hal bentuk fisik atau wajah, melainkan keserupaan dalam hal karakter dan kuasa, sehingga Kristus menjadi “Yang Sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29).

 

Untuk mewujudkan hal itu, maka “mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya” (Roma 8:30). Untuk menjadi seperti yang ditentukan Allah, Allah memanggil kita dan memberikan panggilan kepada kita. Ini berarti Allah menuntut “respon” dari kita terhadap panggilan-Nya. Jika kita merespon panggilan Allah dan hidup “sesuai dengan rencana-Nya” maka Allah akan mewujudkan apa yang telah ditentukan-Nya bagi kita. Tetapi jika kita tidak merespon panggilan-Nya dan menolak panggilan-Nya, maka Allah tidak akan mewujudkan apa yang telah ditentukan-Nya dari semua atas kita; kita tidak akan mencapai keserupaan dengan gambaran Anak-Nya.

 

Ketika kita tidak memiliki keserupaan dengan gambaran Kristus maka kita tidak memiliki keistimewaan apapun sebagai manusia. Sehebat apapun kita di hadapan manusia tetapi jika tidak serupa dengan gambaran Kristus, maka kita tidak lebih sebagai manusia fana biasa; tidak ada “kemuliaan Tuhan” memancar dari hidup kita (2 Korintus 3:18). Kita menjadi istimewa sebab kita memiliki keserupaan dengan Kristus, Anak Allah.

 

Jika kita merespon panggilan Allah, maka kita akan “dibenarkan-Nya,” artinya kita dianggap benar dan dijadikan benar di hadapan Allah. Dosa kita diampuni dan kita disucikan. Kita juga akan memiliki pikiran yang benar, keinginan yang benar, perkataan dan perbuatan yang benar, sehingga kita hidup benar-benar “benar,” karena Allah menjadikan kita benar. Kristus yang adalah “Kebenaran” (Yohanes 14:6) akan menjalankan kehidupan-Nya yang benar di dalam kita dan melalui kita oleh kuasa Roh Kudus-Nya, yaitu Roh Kebenaran, yang Ia utus untuk tinggal di dalam kita selama-lamanya (Yohanes 14:17).

 

Dan kita yang “dibenarkan-Nya” juga akan “dimuliakan-Nya,” artinya dijadikan mulia, sangat istimewa. Kita mulia bukan karena kita terlahir istimewa, melainkan karena kita dimuliakan oleh Allah. Kita dimuliakan karena kita dijadikan serupa dengan Kristus, sehingga kemuliaan Anak Allah terpancar dari hidup kita (2 Korintus 3:18) dan dapat disaksikan serta dirasakan oleh orang sekeliling kita.

 

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18).

 

Ketika kita mengetahui semua kenyataan yang luar biasa ini, maka iman kita timbul dan menghasilkan keyakinan, yaitu “keyakinan iman.” Kita menjadi “percaya diri” bukan karena kekuatan dari diri kita sendiri, tetapi dengan kekuatan dari Tuhan yang bekerja di dalam kita (Kolose 1:29). Ini adalah akibat dari mengetahui kenyataan kita yang sebenarnya di dalam Allah.

 

Perikop tentang “Keyakinan Iman” dalam Roma 8:31-39 dimulai dengan kata-kata “Sebab itu” yang menunjukkan hubungan sebab akibat dengan Roma 8:29-30.

 

Keyakinan iman ini menimbulkan keberanian, dan keyakinan serta keberanian ini menjadi modal kemenangan kita di dalam setiap peperangan dan pertandingan yang kita hadapi. Keyakinan ini akan membuat kita “tidak gugup” ketika menghadapi masalah. Yesus tidak pernah gugup atau panik, Ia selalu tenang dan menguasai keadaan, sebab Ia yakin dan tahu siapa diri-Nya. Jika kita tahu bahwa kita telah ditentukan serupa dengan gambaran Kristus maka kita tidak akan “minder” atau merasa rendah diri; tidak gugup dan takut, sehingga kita merasa “mantap” dalam menghadapi peperangan dan menjalani pertandingan kita. Itu adalah kunci kemenangan.

 

Rasul Paulus menguraikan tentang keyakinan iman ini dengan sangat indah dan luar biasa dalam ayat 31 sampai 37 dari Roma pasal 8.

 

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya ini?” Dengan kata lain: keyakinan iman apa yang akan muncul dari semua kenyataan yang telah dibicarakan di atas? Inilah keyakinan iman yang muncul:

 

Pertama: “Jika Allah di pihak kita (dalam peperangan yang dihadapi), siapakah yang akan (mampu) melawan kita?” (Roma 8:31). Dengan kata lain, tidak ada peperangan atau pertandingan yang tidak dapat dimenangkan. Tidak ada musuh yang tidak dapat kita kalahkan. Tidak ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan. Sehingga kita dapat berkata seperti Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:14).

 

Allah pernah memberikan jaminan kemenangan seperti ini kepada Yosua:

 

“Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu … Aku akan menyertai engkau: Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5).

 

Jika Allah telah berjanji seperti ini apakah kita tidak akan memiliki keberanian dan keyakinan dalam menghadapi peperangan dan pertandingan? Kita akan menghadapi peperangan dan pertandingan kita dengan keberanian dan penuh keyakinan sehingga kita menjadi seorang yang perkasa dan berkemenangan!

 

Keyakinan iman yang kedua adalah: Bahwa kita akan mendapatkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kemenangan kita; kita akan diperlengkapi supaya menang. Allah tidak menahan sesuatu apapun dari pada kita, yaitu yang baik yang kita perlukan. Jika Allah telah rela memberikan Anak-Nya bagi kita, apalagi yang Allah tahan dan tidak berikan kepada kita?

 

“Ia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu (yang baik yang kita perlukan) kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

 

Dengan demikian kita yakin bahwa kita diperlengkapi dengan sempurna oleh Allah sehingga kita dapat memenangkan peperangan dan pertandingan kita. Ia akan menyediakan segala yang kita perlukan. Raja Koresh saja yang tidak mengenal Allah dipersenjatai oleh Allah: “Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku” (Yesaya 45:3), supaya ia dapat menaklukkan bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan. Apalagi kita yang menjadi umat pilihan-Nya: kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat mahatinggi, yaitu kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:8).

 

Raja Koresh bahkan diperkaya Allah dengan harta kekayaan sehingga ia menjadi raja yang hebat: “Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa Akulah Tuhan, Allah Israel” (Yesaya 45:2?). Apalagi kita, anak-anak-Nya, kita akan dicukupi bahkan dilimpahi dengan kekayaan Allah sendiri (Filipi 4:19) sehingga kita tidak akan berkekurangan, bahkan berkelimpahan (2 Korintus 9:8), supaya kita dapat memuliakan Allah dan menjadi saluran berkat untuk banyak orang.

 

Jadi dalam menghadapi peperangan dan pertandingan kita, kita akan diperlengkapi dan tidak akan kekurangan pasokan keperluan kita, sehingga kita bisa menyelesaikan dan memenangkannya.

Keyakinan iman yang ketiga adalah: kita bebas dari gugatan dan penghukuman Allah, sehingga kita tidak hidup dengan rasa bersalah. Ini penting untuk kemenangan peperangan dan pertandingan, sebab perasaan bersalah menimbulkan keraguan dan kebimbangan apakah Allah tidak sedang berseteru dengan kita dan akan membela kita serta berada di pihak kita. Perasaan bersalah juga mengandung ancaman dan hukuman sehingga menimbulkan ketakutan. Ketakutan dan kebimbangan akan melumpuhkan kita dan membuat kita tidak berdaya sehingga kita akan kalah dalam peperangan dan pertandingan yang kita jalani. Kebimbangan dan ketakutan saja sudah merupakan kekalahan di awal pertandingan dan peperangan, lalu bagaimana kita bisa menjalaninya dan memperoleh kemenangan? Tetapi jika kita terbebas dari rasa bersalah, maka kita tidak akan diliputi keraguan, kebimbangan dan ketakutan; itulah modal kemenangan kita.

 

“Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Roma 8:33-34).

 

Jika Yesus telah rela mati bagi dosa-dosa kita supaya kita terbebas dari hukuman, bagaimana mungkin ia malah menjadi “penggugat” kita yang telah ditebus-Nya? Jika Yesus menjadi Pembela bagi kita di sorga, bagaimana Ia juga menghukum kita yang dibela-Nya? Oleh sebab itu rasul Paulus juga meyakinkan kita dengan firman Allah: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1).

 

Jika kita menang atas perasaan bersalah maka kita memiliki keyakinan dan keberanian untuk menghadapi peperangan dan pertandingan dan kita akan menang.

 

Keyakinan iman yang keempat adalah: kesatuan kasih yang tak terpisahkan antara Allah dengan kita.

 

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35)

 

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut (kematian), maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah (kerajaan kegelapan), baik yang ada sekarang sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu mahluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39).

 

Kita yakin bahwa kasih Allah kepada kita, dan kesatuan kita dengan Allah dalam kasih-Nya, tidak dapat dihalangi atau dipisahkan oleh kekuatan apapun, sehingga kita senantiasa hidup dalam kasih Allah yang begitu besar. Mengetahui dan menyadari bahwa Allah selalu mengasihi kita, merindukan dan menginginkan kita, akan memberikan keteguhan hati kepada kita bahwa tidak ada satu kekuatan pun di luar Allah yang dapat mencuri atau merampas kita dari tangan Allah yang kuat; kecuali jikalau kita sendiri yang melepaskan diri dari kasih Allah. Keyakinan ini akan menimbulkan keberanian yang luar biasa dalam menghadapi musuh bahwa kekuatan mereka tidak dapat merampas kita dari tangan Allah yang perkasa. Kekuatan musuh tidak akan dapat menceraikan kita dari kasih Allah, sebab tangan Allah lebih kuat dari lengan musuh-Nya dan kuasa Allah yang ada di dalam kita jauh lebih besar dari segala kuasa yang ada di dalam dunia.

 

“Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:29).

 

“Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4).

 

Keyakinan iman ini penting sehingga kita tidak dapat dikalahkan musuh, meskipun musuh berusaha menggunakan berbagai kesukaran, berbagai ancaman bahaya dan kesengsaraan untuk menjatuhkan kita. Kita memang diutus Tuhan di dunia ini seperti domba di antara serigala sehingga kita selalu berada dalam ancaman musuh:

 

“Seperti ada tertulis: Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan” (Roma 8:36).

 

Musuh inginnya membuat kita takut dan putus asa sehingga kita menyerah kalah kepadanya. Musuh inginnya kita marah kepada Tuhan dan menyalahkan Tuhan karena berbagai kesukaran yang dihadapi sehingga kita akan menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan (Ibrani 12:15). Namun demikian meskipun kita lemah, Allah tetap kuat, dan kuasa-Nya tidak berkurang sedikit pun, sehingga ancaman Iblis tidak dapat membatalkan kasih Allah kepada kita atau memisahkan kita dari-Nya. Allah selalu akan mengasihi kita. Ini akan membuat kita merasa mantap, damai sejahtera dan sukacita. Dan damai sejahtera dan sukacita sudah merupakan kemenangan kita.

 

Kesulitan dan kesukaran tidak akan menghentikan langkah kita apalagi melumpuhkan kita jika kita memiliki keyakinan iman akan kasih Allah kepada kita dan akan kekuatan kesatuan (unity) antara Allah dan kita. Ini menjadikan kita seorang yang tidak dapat dihentikan musuh atau dihalangi musuh. Kita akan terus bergerak maju menekan kekuatan musuh sehingga ia mundur dan kalah, dan kita mencapai kemenangan. Kita menjadi orang yang tangguh dan tak terkalahkan karena kita bersatu dengan Allah dalam kasih-Nya.

 

Keyakinan akan kesatuan (unity) dengan Allah juga yang disadari betul oleh Tuhan Yesus ketika Ia mengatakan “Aku dan Bapa adalah Satu” (Yohanes 10:30)

 

 

Hari ini kita juga harus meyakini: Kritus ada di dalam kita, dan kita di dalam Kristus (Yohanes 6:56). Kita dan Kristus adalah Satu, dan tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus; bahkan penderitaan juga tidak dapat. Sehingga kita dapat berani dan penuh keyakinan menghadapi peperangan dan pertandingan kita karena Dia yang berperang bagi kita dan menjadi kemenangan kita.

 

Akhirnya kita akan memiliki keyakinan iman bahwa kita adalah pemenangnya; kita bahkan lebih dari seorang pemenang:

 

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37)

 

Kita lebih dari orang-orang yang menang dalam pertandingan  maupun peperangan. Atlet atau prajurit menang karena mereka berlatih dan dipersenjatai serta diperlengkapi dengan baik. Mereka memenangkannya seorang diri. Pelatih mereka tidak ikut bertanding dalam pertandingan, dan komandan mereka tidak berperang untuk mereka. Mereka berjuang sendiri. Tetapi kita lebih dari pada mereka sebab Yesus, Pelatih kita dan Panglima kita, turut berperang bersama kita (“turut bekerja dalam segala sesuatu” Roma 8:28) dan berperang untuk kita, bahkan memenangkan peperangan itu bagi kita (“Aku telah mengalahkan dunia ini” Yohanes 16:33). Itu terjadi karena Yesus mengasihi kita dan kita bersatu dengan Kristus dalam kasih-Nya yang tak terpisahkan. Inilah keyakinan iman yang menimbulkan keberanian untuk bertindak. Dengan keyakinan dan keberanian maka kita sudah memenangkan peperangan dan pertandingan kita bahkan sebelum itu dimulai!

 

Jadi, biarlah pikiran Tuhan ini menguasai pikiran kita. Ijinkan Dia bekerja (berperang) bersama kita, maka hasilnya adalah kemenangan yang luar biasa. Dengan keyakinan iman ini kapasitas iman kita menjadi besar dan kemampuan kita akan diperbesar: pikiran kita menjadi terbuka, kreatif dan penuh hikmat. Kita akan menjadi semangat, antusias dan perkasa.

 

Inilah waktu kesiapan kita: ketika kita mengetahui, menyadari, mempercayai dan meyakini hal ini, maka kita siap untuk masuk dalam penggilan Tuhan yang luar biasa: suatu terobosan yang akan membawa kita ke posisi yang sangat tinggi dan pengaruh yang sangat besar sebagaimana yang dikehendaki Tuhan agar kita menjadi alat bagi rencana-Nya yang besar, dan menjadi saluran berkat-Nya yang luar biasa.

 

Abraham dipanggil pada usia 75 tahun, Musa 80 tahun, Yusuf 30 tahun dan Daud 30 tahun ketika ia menjadi raja Israel. Masing-masing memiliki waktu kesiapannya sendiri, sesuai dengan penilaian Tuhan atas mereka setelah mereka melalui berbagai proses. Ini bukan masalah usia, tetapi masalah kesiapan mental dan spiritual. Kiranya kita sudah sampai di masa kesiapan kita untuk menerima panggilan Allah yang luar biasa.

 

Tetapi selain keyakinan, keberanian dan semangat ada satu hal lagi yang sangat penting supaya Tuhan bisa memakai kita, yaitu kita tidak boleh mementingkan diri sendiri (egois). Tuhan tidak akan memakai orang yang egois, sebab orang egois hanya akan memanfaatkan Tuhan untuk kepentingannya sendiri dan bukan untuk kehendak dan rencana Tuhan. Ingat, Allah bekerja dalam kehendak dan rencana-Nya bukan dalam kehendak dan rencana kita sendiri. Oleh sebab itu kita harus tahu kehendak dan rencana Allah.

 

Keyakinan iman tidak bisa digunakan dan tidak akan bekerja dalam kehidupan orang egois. Tuhan tidak mau bekerja bersama orang egois. Keyakinan iman tidak boleh dan tidak bisa digunakan untuk kepentingan diri sendiri. Hanya ketika kita ingin kehendak Tuhan saja yang terjadi dan ingin menjadi alat Tuhan untuk memberkati banyak orang, maka keyakinan iman akan berguna dan bekerja dengan efektif.

 

Jika ini semua dipraktekkan kita akan menjadi orang percaya yang hebat, karena Kristus, Allah kita, hebat.

 

(Tulisan ini terinspirasi dan mengutip isi khotbah yang disampaikan oleh Pastor Yusuf Rahman di GSJP pada tanggal 11 Februari 2018).

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Perjalanan Misi Ke Kamboja

Perjalanan Misi ke Kamboja.

Pdt. Simon Irianto, Dipl. Teks. & Ir. David Kurniadi

12 – 16 Mei 2009

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday0
mod_vvisit_counterYesterday0
mod_vvisit_counterThis week0
mod_vvisit_counterLast week0
mod_vvisit_counterThis month1127
mod_vvisit_counterLast month18110
mod_vvisit_counterAll1123945

People Online 0
Your IP: 54.80.247.119
,
Now is: 2018-06-18 16:53



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.