top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...




PERTEMUAN KBN Oktober 2018 : Minggu,28/10/2018 Pk 17.00," IMPACT NOT IMPRESS, oleh : Bpk. Marco " Gedung Grand Matlenn (ex.Istana Gading) Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh
Harga Keselamatan Yang Sangat Mahal PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Friday, 06 April 2018 07:25

Ketika Allah, atau lebih tepatnya: Anak Allah, menjadikan dunia (Kej. 1:1-31; Yoh. 1:3) sesuai dengan kehendak Bapa, Ia tidak mengeluarkan biaya apa-apa, karena Ia hanya cukup berfirman dan semuanya terjadi (Maz. 33:9). Ketika Ia menjadikan manusia, Ia juga tidak mengeluarkan biaya apa-apa, karena Ia hanya memakai debu dari tanah (Kej. 2:7), untuk membentuk tubuh jasmaninya dan menghembuskan ke dalam hidungnya nafas hidup, sehingga ia menjadi mahluk yang hidup.

 

Tetapi ketika Allah menyelamatkan dunia, Ia harus membayar harga yang sangat mahal, karena Allah Bapa harus memberikan Anak-Nya Yang Tunggal (Yoh. 3:16), dan Anak Allah harus melepaskan kesetaraan-Nya dengan Allah untuk menjelma menjadi manusia (Fil. 2:6-7) dan menyerahkan nyawa-Nya untuk mati menggantikan manusia (Yes. 53:5) untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21).

 

“Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena (rela mengalami) penderitaan maut, dimahkotai (Allah Bapa) dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia (dengan kekuatan dari) Allah Ia mengalami maut (sebagai upah dosa yang Ia tanggung) bagi semua manusia” (Ibrani 2:9).

 

Mengapa harga keselamatan manusia begitu mahal, sehingga harus nyawa Anak Allah harus dikorbankan? Karena dua alasan: yang pertama, karena kasih Allah yang sangat besar kepada manusia (Yoh. 3:16), dan karena dosa manusia yang sangat besar (Roma 3:23).

 

Kasih menentukan nilai. Ketika kita mengasihi sesuatu, maka sesuatu itu menjadi bernilai bagi kita: semakin besar kasih semakin tinggi nilai. Dan Allah sangat mengasihi manusia yang dijadikan-Nya sehingga jiwa manusia menjadi sangat berharga atau bernilai di hadapan-Nya. Seberapa berharganya jiwa manusia bagi Allah? Allah menilai jiwa “seorang” manusia adalah setara dengan kekayaan seluruh dunia (Mat. 16:26).

 

“Apa gunanya seorang memperoleh (kekayaan) seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (jiwanya)? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya (bayaran untuk menebus jiwanya)? (Mat. 16:26).

 

“Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya” (Mazmur 49:7-8).

 

Orang yang paling kaya di dunia pun, kekayaannya tidak setara dengan nilai “seluruh” kekayaan di dunia. Ya, Allah menilai “satu” jiwa manusia dengan nilai seluruh kekayaan di dunia. Lalu berapa nilai “total” dari seluruh jiwa manusia? Hanya nyawa atau kehidupan Anak Allah, yang telah menciptakan mereka, yang dapat menyamainya.

 

Kedua: besarnya dosa dunia. Setiap dosa yang dilakukan manusia dicatat sebagai hutang (Kol. 2:14) dan akan diakumulasikan selama ia hidup, dengan jiwa manusia sebagai jaminannya (gadainya) yang akan diklaim Setan apabila hutang dosanya tidak ditebus atau dibayar lunas. Tetapi manusia tidak pernah menyadari hutang dosanya. Mereka dengan lugunya bertanya: “Saya memangnya dosa apa?” Mereka pikir bahwa dosa hanya berhubungan dengan tindakan jahat atau kriminal. Padahal sebenarnya dosa adalah setiap perbuatan yang bertentangan dengan ketetapan Allah (1 Yoh. 3:4).

 

Kain membunuh saudaranya, Habel (Kej. 4:8). Ini benar perbuatan kriminal. Tetapi kejahatan apa yang telah dilakukan Adam? Ia hanya makan buah (Kej. 3:6), dan makan bukanlah perbuatan jahat. Tetapi apa yang menjadikan Adam berdosa adalah ia makan buah yang ditetapkan Allah dilarang untuk dimakan (Kej. 2:17). Jadi Adam melakukan hal yang melawan ketetapan Allah. Ini menjadikannya berdosa (Roma 5:12), dan akhirnya membuat seluruh dunia berdosa.

 

“Sebab itu sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang (yaitu Adam)” (Roma 5:12).

 

Manusia juga tidak bisa menghitung berapa besar hutang dosanya. Bagi manusia lebih mudah menghitung hutang uang dari pada menghitung hutang dosa. Itulah sebabnya mengapa Tuhan meberikan ilustrasi untuk menyadarkan manusia nilai hutang dosa yang telah mereka perbuat.

 

Tuhan memberikan sebuah perumpamaan tentang seorang yang berhutang 10.000 talenta emas (Mat. 18:24). Jika kita menilainya dengan nilai hari ini, itu setara dengan nilai kurang lebih 6 triliun rupiah. Itu adalah jumlah yang sangat besar dan luar biasa untuk nilai hutang pribadi, yang jika orang itu hendak mencicilnya, ia harus membayar lebih dari 164 juta rupiah setiap hari selama 100 tahun, jika ia bisa hidup 100 tahun. Ini adalah hutang pribadi yang tidak mungkin dibayar.

 

Apa yang Tuhan Yesus maksudkan dengan perumpamaan ini? Ia mau menunjukkan kepada kita bahwa “nilai minimum” dosa manusia per pribadi adalah sangat besar. Ini adalah nilai hutang dosa orang yang merasa dirinya tidak berdosa dan bertanya: Saya memangnya dosa apa? Adalah mustahil bagi manusia untuk membayar hutangnya sendiri. Itulah sebabnya mengapa Allah adalah satu-satunya yang dapat membebaskan manusia dari hutang dosanya (Roma 8:1; Kol. 2:14), yaitu dengan memberikan Anak-Nya untuk membayar lunas hutang dosa manusia dan menebus jiwa yang sudah digadaikannya.

 

Bayangkan, jika nilai minimal hutang dosa pribadi sedemikian besarnya, berapa besar hutang dosa keseluruhan manusia? Hanya nyawa Anak Allah yang dapat menyetarainya dan cukup untuk membayar penebusan jiwa manusia.

 

Keselamatan manusia adalah perkara yang hampir mustahil: ini mustahil bagi manusia untuk melakukannya sendiri, tetapi tidak mustahil bagi Allah. Seberapa mustahilnya? Semustahil “memasukkan unta ke lubang jarum” (Luk. 18:24-27). Artinya tidak ada seorang pun manusia yang dapat menyelamatkan jiwanya sendiri; hanya Allah yang dapat melakukannya. Dan di bawah kolong langit tidak ada seorang pun yang dapat memberikan keselamatan kepada manusia, kecuali Anak Allah, satu-satunya Juruselamat manusia!

 

“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12).

 

“Hampir mustahil” sebab manusia sangat berdosa (Roma 3:10-18), tetapi Allah ingin membuat manusia yang sangat berdosa itu dapat hidup dengan Dia – Yang Mahasuci – di Sorga, tempat yang suci.

 

Itulah sebabnya harga keselamatan manusia sangat mahal, dan harus dibayar dengan kehidupan Anak Allah. Anak Allah membayar harga keselamatan kita: dengan mengosongkan diri-Nya dan menjadi manusia (Fil 2:6-8). Di dalam rupa manusia Ia menjadi miskin (2 Kor. 8:9). Ia yang tidak memiliki dosa menanggung dosa semua manusia (2 Kor. 5:21) dan juga kutuk dosa (Gal. 3:13), mati secara menderita di salib dan turun ke alam maut (Ef. 4:9), mengalami maut (Ibr. 2:9): yang adalah upah dosa (Roma 6:23), sebagai substitusi (menggantikan) manusia.

 

Alasan mengapa Ia melakukan semuanya ini adalah karena kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia (Yoh. 3:16). Kematian-Nya di kayu salib adalah pernyataan kasih terbesar sepanjang sejarah dan paling romantis dari Allah kepada manusia, lebih romantis dari kisah Romeo dan Juliet.

 

Dengan kematian-Nya di salib dan dengan mencurahkan darah-Nya, Ia membeli manusia bagi Allah dari segala suku, bangsa dan bahasa (Wah. 5:9; 1 Pet. 1:18-19). Nilai keselamatan manusia adalah tak terhingga: tidak ada seorangpun yang mampu membayarnya, maka Allah memberikannya secara cuma-cuma sebagai anugerah (Ef. 2:8).

 

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian (hadiah dari) Allah” (Efesus 2:8).

 

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23-24).

 

Jadi sekarang, apa wujud penghargaan kita atas anugerah yang telah kita terima dan untuk harga yang telah dibayar oleh Tuhan Yesus dengan nyawa-Nya?

 

Rasul Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah, sebagai ibadah kita yang sebenarnya dan penghargaan kita atas kemurahan-Nya (Roma 12:1). Kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar untuk menjadi milik kepunyaan-Nya (1 Kor. 6:20), oleh karena itu kita jangan hidup bagi diri kita sendiri lagi tetapi untuk Dia yang telah mati bagi kita dan bangkit kembali (2 Kor. 5:15).

 

Kita seharusnya menyerahkan diri kita dengan sukarela kepada Dia yang telah membayar harga keselamatan kita, karena kita telah dimerdekakan dari perbudakan dosa (Gal. 5:1). Marilah kita menjadikan Yesus “Majikan” supaya kita dapat aman dari majikan lama kita yaitu si Iblis. Jika kita hidup untuk diri kita sendiri maka kita terancam akan diperbudak kembali oleh si Iblis, untuk menjadi budak dosanya kembali. Tetapi jika Yesus, Majikan kita yang baru, memiliki kita, kita aman, karena Iblis tidak dapat merebut kita dari tangan-Nya.

 

Ada ilustrasi yang baik tentang hal ini. Ketika zaman perbudakan masih terjadi, ada seorang budak yang disiksa oleh majikannya. Kemudian ada seorang kaya yang lewat dan melihat apa yang sedang terjadi. Si orang kaya merasa kasihan kepada si budak dan bertanya kepada si majikan mengapa ia menyiksa budaknya. Tetapi orang itu berkata, itu bukan urusannya. Ia memiliki hak untuk melakukan apapun kepada budaknya bahkan untuk membunuhnya sekalipun, karena itu adalah budak beliannya. Tetapi si orang kaya ingin menolong budak itu, jadi ia bertanya apakah ia dapat membeli budak itu. Si majikan setuju dan menetapkan harga yang sangat tinggi dan tidak masuk akal. Tetapi karena ia mengasihani budak itu, si kaya setuju untuk membayar harganya agar ia dapat memerdekakan si budak itu dari majikannya. Setelah membeli budak itu, ia membawanya ke luar kota dan melepaskannya karena ia tidak ingin untuk memperbudaknya.

 

Tetapi si budak berpikir, bahwa jika ia hidup sebagai orang merdeka dan tidak dimiliki siapapun, majikan lamanya akan mengejar dia dan memperbudaknya lagi, dan ia akan menderita seperti sebelumnya. Jadi si budak meminta orang kaya yang telah membelinya untuk menjadi majikannya dan menjadikan dia miliknya. Ia dengan sukarela memperbudak dirinya kepada orang kaya itu untuk seumur hidupnya melayani dia. Kehidupan yang paling aman adalah ketika kita menjadi milik kepunyaan Allah dan Yesus menjadi Majikan kita, karena Tuhan Yesus akan melindungi dan membela kita, dan tidak akan membiarkan Iblis memperbudak kita lagi.

 

Tetapi sebagai akibat menjadi hamba Allah, kita harus mengerjakan “pekerjaan baik yang telah dipersiapan Allah” bagi kita (Ef. 2:10), yaitu untuk menceritakan kebaikan Dia yang telah memanggil kita dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib (1 Pet. 2:9). Dengan kata lain melaksanakan Amanat Agung yang telah diberikan Tuhan kepada kita (Mat. 28:18-20), yaitu memberitakan Injil, menyebarkan Kabar Baik tentang pengampunan dosa dan keselamatan kekal melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus.

 

Dengan mengerjakan hal ini kita sedang mengerjakan keselamatan kita sebagai mana yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada kita (Fil. 2:12). Kita tidak bekerja untuk memperoleh keselamatan, tetapi kita mengerjakan keselamatan yang telah kita peroleh, dengan memberitakan kepada yang belum diselamatkan tentang anugerah keselamatan yang mereka dapat terima melalui Yesus Kristus.

 

Ini seperti melemparkan tali penyelamat kepada orang yang sedang tenggelam di laut, sementara kita sudah selamat di perahu. Keselamatan mereka adalah tanggung jawab kita yang telah selamat. Jika kita tidak peduli, kita adalah orang yang kejam dan egois. Dan satu hari Allah akan menuntut pertanggungjawaban dari kita.

 

Jika kita memberitakan Injil dan orang menolak kita dan tidak mau percaya, maka itu bukanlah tanggung jawab kita lagi jika mereka terhilang (Luk. 10:10-12). Tetapi setidaknya kita telah melemparkan tali penyelamat itu kepada mereka. Ini adalah kewajiban kita untuk mengerjakan keselamatan kita.

 

Bagi mereka yang mau menjadi saksi Kristus, Allah akan memperlengkapi dan memberi kuasa kepada kita dengan urapan Roh Kudus (Kis. 1:8). Dan Roh Kudus akan meneguhkan pemberitaan Injil kita (Mark. 16:20). Di samping itu, akan ada upah, baik sekarang ini semasa hidup maupun di kekekalan nanti, bagi mereka yang mau bekerja (Yoh. 4:35-36). Jadi kerja kita akan menjamin keselamatan kita karena nama kita tercatat di sorga (Luk. 10:20).

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Kasih Karunia: Rahasia Keselamatan Manusia

Allah mengaruniakan kehendak bebas kepada manusia yang diciptakan-Nya karena Ia menghendaki supaya manusia menyembah Dia bukan karena terpaksa, melainkan karena dengan kesadaran sendiri dan dengan kerelaan hatinya. Hal ini tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan lainnya seperti binatang atau tumbuhan. Ketika manusia menggunakan kehendak bebas yang dimilikinya untuk memilih menyembah Allah, beribadah kepada-Nya dan hidup melayani Dia, maka Allah mendapat kemuliaan. Untuk setiap pemakaian yang benar atas kehendak bebas yang telah dikaruniakan-Nya Allah memberikan pahala kepada manusia berupa berkat jasmani dan rohani .




Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.