PERTEMUAN KBN 2018 : Minggu, //2018 Pk 17.00," , oleh : " Gedung Istana Gading Lt.3, Komplek Ruko City Square, Jl. Abdulrahman Saleh Pentakosta Yang Luar Biasa
       

top news photography Visi & Misi KBN Indonesia

Mempelajari prinsip sukses bisnis dalam Alkitab.
Kesaksian yang memberikan inspirasi.
Pendampingan mempraktekkan kebenaran Firman.
Menghidupi & Mengalami sendiri keberhasilan sejati.
Melayani & Menjadi Berkat.
Read more...


We are sorry to inform, that our visitor counter had a problem. Please ignore. Thank You for attention. Mohon maaf, Visitor Counter kami sedang mengalami gangguan teknis. Mohon diabaikan. Terimakasih.
Pentakosta Yang Luar Biasa PDF Print E-mail
Written by Ir. David Kurniadi   
Monday, 28 May 2018 06:23

Di awal pelayanan Yesus di bumi, Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada Israel sebagai Pembaptis dengan Roh Kudus dan Anak Allah. Yohanes Pembaptis berkata: “Aku pun tidak mengenal-Nya (pada awalnya), tetapi Ia (Allah Bapa) yang mengutus aku untuk membaptis dengan air berfirman, “ke atas siapa engkau akan melihat Roh Kudus turun dan tinggal, Ialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus.” Dan aku telah melihatnya dan aku bersaksi bahwa Ia inilah Anak Allah!” (Yoh. 1:33-34).

 

Pada kesempatan lain Tuhan Yesus menawarkan Roh Kudus kepada orang-orang, yang akan mereka terima jika mereka mau percaya kepada-Nya. Ia berkata: “Barangsiapa percaya kepada-Ku sebagaimana yang dikatakan Kitab Suci, dari dalam hatinya akan mengalir terus menerus aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkan-Nya (di sini) ialah Roh (Kudus), yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya. Karena Roh Kudus belum diberikan, sebab Yesus belum dimuliakan” (Yoh. 7:37-39).

 

Akan turunnya Roh Kudus di kemudian hari membuat Yesus percaya (yakin) bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Ia lakukan, dan bahkan mereka akan melakukan yang lebih besar lagi, karena Roh Kudus akan menolong mereka dan bekerja melalui mereka. Yesus berkata: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan; dan ia bahkan akan melakukan pekerjaan yang lebih besar lagi, karena Aku pergi kepada Bapa (untuk mengutus Roh Kudus kepadamu)” (Yoh. 14:12).

 

Kemudian Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu Penolong yang lain supaya Ia menyertaimu selama-lamanya” (Yoh. 14:16). Lebih lanjut Ia berkata: “Kamu mengenal Dia sebab Ia akan tinggal di dalam kamu dan menyertaimu selamanya” (ayat 17). Jadi Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya secara tetap dan permanen. Roh Kudus menjadikan tubuh orang-orang percaya tempat kediaman-Nya dan Bait Kudus-Nya (1 Kor. 6:19).

 

“Atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang tinggal di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu terima dari Allah? Dan bahwa kamu bukanlah milikmu sendiri?” (1 Kor. 6:19).

 

Turunnya Roh Kudus atas orang percaya sebenarnya adalah jawaban Allah Bapa atas doa Tuhan Yesus. Allah menjawab doa-Nya dengan menjanjikan kepada Yesus untuk memberikan Roh Kudus pada waktu penobatan-Nya, dan kemudian Yesus akan mencurahkan Roh Kudus itu ke atas orang percaya (Kis. 1:33).

 

“Dan setelah ditinggikan oleh tangan kanan Allah, dan menerima dari Bapa Roh Kudus yang dijanjikan, maka dicurahkan-Nya seperti apa yang kamu lihat dan dengar sekarang” (Kis. 1:33).

 

Jadi, kedatangan Roh Kudus terjadi setelah Yesus kembali ke sorga. Tuhan Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Adalah lebih berguna bagimu jika Aku pergi. Sebab jika Aku tidak pergi Penghibur tidak akan datang kepadamu; tetapi jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu (untuk menyertaimu)” (Yoh. 16:7).

 

Dan setelah kebangkitan-Nya, sebelum Ia naik ke sorga, Tuhan Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk tidak meninggalkan Yerusalem melainkan menunggu apa yang Bapa telah janjikan. Ia berkata kepada para murid-Nya: “Tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus” (Kis. 1:4-5).

 

Setelah menunggu sepuluh dari dalam doa (Kis. 1:14), kemudian Roh Kudus turun ke atas mereka dengan disertai fenomena supranatural yang ajaib (Kis. 2:1-4).

 

“Dan ketika tiba hari Pentakosta, mereka berkumpul bersama di satu tempat, ketika tiba-tiba ada suara dari sorga seperti tiupan angin keras, dan memenuhi tempat di mana mereka duduk. Dan kemudian tampaklah lidah-lidah seperti api, yang turun ke atas masing-masing dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dengan bahasa-bahasa yang Roh Kudus berikan kepada mereka untuk diucapkan’ (Kis. 2:1-4).

 

Pertanyaannya adalah, mengapa mereka harus menunggu sepuluh hari?

 

Karena Bapa telah menetapkan waktu yang tepat untuk peristiwa tersebut. Ia memilih waktu untuk memberikan Roh Kudus yang dijanjikan pada hari Pentakosta, karena itu adalah hari ketika Musa, 1400 tahun sebelumnya, menerima dua loh batu dari Allah (Kel. 31:18).

 

“Dan Tuhan memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu yang ditulisi oleh jari Allah” (Kel. 31:18).

 

Musa naik ke gunung Sinai untuk menerima loh batu, sementara Yesus naik ke sorga untuk menerima Roh Kudus yang dijanjikan (Kis. 2:33). Dan kita tahu apa yang terjadi setelah Musa turun dari gunung dengan kedua loh batu di tangannya, ia mendapati orang Israel sedang menyembah patung lembu emas. Musa sangat marah dan melemparkan loh batu itu dari tangannya dan memecahkannya di kaki gunung (Kel. 32:15-19). Dan pada hari itu 3000 orang mati terbunuh (ayat 28).

 

Dan 1400 tahun kemudian Allah membalikkan sejarah Pentakosta. Yesus naik ke sorga, menerima Roh yang dijanjikan, dan mencurahkan-Nya ke atas orang-orang yang berkumpul di Yerusalem: ke atas 120 murid dan juga orang-orang yang sedang berkumpul merayakan perayaan Pentakosta. Sebagai akibatnya, 3000 orang diselamatkan (Kis. 2:41) dengan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan mereka dibaptis. Ini adalah penebusan sejarah.

 

Apa tujuan Yesus mencurahkan Roh Kudus pada perayan Pentakosta? Karena pada hari itu orang-orang Yahudi yang saleh yang datang dari berbagai bangsa (Yahudi diaspora) sedang berkumpul di Yerusalem (Kis. 2:5) juga untuk merayakan “Hari Raya Tujuh Minggu” (Kel. 34:22-23), yaitu merayakan buah bungaran (first fruit: hulu hasil) panen gandum.

 

Hari raya tujuh minggu, atau hari raya buah bungaran adalah bayangan dari apa yang akan terjadi 1400 tahun kemudian, yaitu tuaian awal jiwa-jiwa. Sebab pada hari itu 3000 orang bertobat. Ini adalah tuaian awal gereja atas jiwa-jiwa di dunia. Setelah itu sampai saat ini jutaan jiwa terus dituai di berbagai belahan bumi.

 

Kita tahu bahwa nabi Yoel pernah menubuatkan bahwa Roh Kudus akan dicurahkan ke atas semua manusia (Yoel 2:28): ke atas orang percaya dan juga orang yang belum percaya. Atas orang percaya (para murid Yesus): untuk memperlengkapi mereka dan memberi kuasa supaya mereka menjadi alat keselamatan bagi orang-orang yang tidak percaya (Kis. 1:8); dan ke atas orang yang tidak percaya, karena hanya Roh Kudus yang dapat menginsyafkan mereka akan dosa (Yoh. 16:8-9) supaya mereka bertobat dan menerima anugerah keselamatan.

 

Orang-orang Yahudi diaspora ini datang dari berbagai negara dan berbicara dalam dialek bahasa dari mana mereka lahir (Kis. 2:8-11), dan mereka akhirnya menerima Yesus Kristus (Kis. 2:41). Jadi orang-orang ini “hulu hasil tuaian jiwa-jiwa” yang menjadi modal penyebaran Injil kepada segala bangsa di dunia sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:19-20; Mar. 16:15) dan tujuan pencurahan Roh Kudus (Kis. 1:8).

 

“Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19).

 

“Tetapi kamu akan menerima kuasa apabila Roh Kudus turun ke atasmu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8).

 

Di kemudian hari, orang-orang yang telah bertobat ini menjadi benih gereja di tengah bangsa-bangsa. Mereka akan menyambut para saksi Kristus yang datang memberitakan Injil di daerah mereka. Jadi kita lihat, Tuhan Yesus melalui Roh Kudus telah mempersiapkan jalan bagi Injil untuk diberitakan di antara bangsa-bangsa di muka bumi.

 

“Dan Ia berkata kepada mereka, Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada semua mahluk” (Mar. 16:15).

 

Jadi sebetulnya pencurahan Roh Kudus itu bukan monopoli gereja, sebagaimana yang dinubuatkan dengan jelas oleh Yoel tentang ini.

 

“Dan setelah itu Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Yoel 2:28).

 

Ketika hari Pentakosta, Roh Kudus tercurah bukan hanya ke atas 120 orang murid di ruang atas (Kis. 2:1-4), tetapi juga ke atas orang-orang yang berkumpul di luar ruang. Perbedaannya adalah, ke atas orang-orang percaya pencurahan disertai fenomena dan kuasa supranatural, sementara di luar ruangan Roh Kudus bergerak (melayang-layang) di atas orang-orang yang sedang berkumpul (meskipun tanpa fenomena) mengantisipasi kata-kata yang akan diucapkan oleh para murid yang sedang mengalami urapan Roh Kudus di ruang yang di atas.

 

Pencurahan Roh Kudus atas orang percaya selalu disertai dengan fenomena supranatural dan kuasa. Fenomena supranatural membuat orang percaya dapat mengetahui dan menyadari bahwa urapan Roh Kudus sedang terjadi atas mereka. Tanpa fenomena bagaimana orang percaya dapat mengetahui bahwa mereka telah menerima urapan Roh Kudus?

 

Tetapi bersama fenomena juga harus ada kuasa supranatural yang memberikan kekuatan dan keberanian, kemampuan dan semangat. Beberapa orang percaya berhentu di titik mengalami fenomena dan menikmatinya. Jadi mereka memuaskan diri mereka dengan fenomena tersebut. Ini bukanlah tujuan utama pencurahan Roh Kudus. Kita harus menerima juga kuasa untuk menjadikan kita saksi Kristus. Kuasa Roh Kudus akan memberi kita kekuatan, kemampuan, keberanian dan keberhasilan.

 

Meskipun tanpa fenomena, Roh Kudus secara aktif bekerja atas orang-orang tidak percaya, mengantisipasi firman Allah yang akan diucapkan melalui mulut saksi-saksi Kristus, jika tidak demikian mereka tidak dapat bertobat. Roh Kudus adalah yang menginsyafkan orang tidak percaya akan dosa mereka (karena mereka tidak percaya kepada Yesus) dan membimbing mereka kepada pertobatan (Yoh. 16:8). Jadi kita melihat di sini kerja sama antara Roh Kudus dan orang-orang percaya. Orang-orang percaya adalah rekan kerja Roh Kudus.

 

“Dan jika Ia (Roh Kudus) datang, Ia akan menginsyafkan dunia …” (Yoh. 16:8).

 

Ketika ke-120 orang percaya di dalam ruangan sedang menikmati pengalaman supranatural dibaptis dengan Roh Kudus, Roh Kudus juga sedang menantikan mereka di luar ruangan dengan melayang-layang di atas orang-orang (yang belum percaya). Roh Kudus menantikan para murid untuk membuka pintu atau jendela ruangan (di mana mereka berkumpul berdoa) untuk menyampaikan firman Allah, karena Roh Kudus hanya dapat bekerja ketika firman Allah diucapkan.

 

Kita mungkin ingat bagaimana Allah menciptakan terang di dunia. Alkitab mengatakan: “Bumi tidak berbentuk dan kosong, gelap gulita di atas samudera raya. Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Dan Allah berfirman: Jadilah terang! Maka terang pun jadilah” (Kej. 1:2-3).

 

Kita melihat bahwa sesuatu tercipta ketika Roh Kudus mengerjakan firman Allah yang diucapkan. Roh Kudus tidak memerlukan banyak kata untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa. Ia hanya memerlukan beberapa kata saja sebab Ia adalah Roh Yang Mahakuasa.

 

Dengan cara yang sama Roh Kudus melayang-layang di atas orang-orang yang berkumpul di luar ruangan yang di atas, menantikan orang percaya untuk menyampaikan firman Allah supaya Roh Kudus dapat menjamah hati orang percaya dan menginsyafkan mereka akan dosa mereka karena tidak percaya kepada Yesus (Yoh. 16:8). Tetapi para murid asyik menikmati pengurapan di dalam ruangan. Jadi Allah harus memprovokasi mereka untuk berbicara. Ia memakai beberapa orang untuk memprovokasi dengan mengolok-olok para murid dan mengatakan bahwa mereka sedang mabuk anggur manis (Kis. 2:13).

 

Mendengar provokasi ini, rasul Petrus membuka jendela (atau pinru), dan mulai berdiri bersama dengan kesebelas murid yang lain, ia mengangkat suaranya dan mulai menyampaikan firman Allah (Kis. 2:14-36). Kemudian Roh Kudus mulai bekerja memakai firman yang diucapkan Petrus sebagai pedang-Nya (Ef. 6:17; Ibr. 4:12). Ia menjamah, menginsyafkan mereka akan dosa mereka karena telah menolak Yesus dan tidak percaya kepada-Nya (Kis. 2:36-37).

 

“Oleh karena itu biarlah segenap Israel mengetahui dengan pasti bahwa Allah telah menjadikan Yesus – yang telah kamu salibkan - sebagai Tuhan dan Kristus. Ketika mereka mendengar hal ini hati mereka sangat terharu dan mereka berkata kepada Petrus dan rasul-rasul, “Saudara-saudara, apakah yang kami harus lakukan?” (Kis. 2:36-37).

 

Ketika Roh Kudus menjamah orang-orang ini, maka mereka telah matang dan siap “dituai.” Kemudian Petrus segera memanfaatkan kesempatan ini dan berkata kepada mereka: “Bertobatlah dan berilah dirimu untuk dibaptis di dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu” (Kis. 2:38). Dan sebagai akibatnya, mereka menerima berita itu dan dibaptis; jumlah mereka adalah 3000 orang laki-laki (Kis. 2:41). Betapa tuaian yang luar biasa?

 

Dan pada hari itu Gereja pun lahir. Gereja lahir dalam kemuliaan. Mereka dengan tekun melakukan pengajaran rasul-rasul. Banyak tanda ajaib dan mujizat dilakukan melalui para rasul. Setiap hari mereka secara teratur berkumpul di Bait Suci dengan satu hati dan juga di rumah-rumah mereka. Tuhan terus menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang bertobat (Kis. 2:42-47).

 

Gereja mula-mula di Yerusalem bertumbuh dan menjadi gereja yang sangat besar di tengah-tengah ancaman para pemimpin agama Yahudi, para ahli Taurat dan orang Farisi (Kis. 5:42). Tetapi mereka hanya menikmati persekutuan di antara mereka sendiri dan tidak pernah bergerak ke luar dari Yerusalem untuk menyebarkan Injil sebagaimana yang diinginkan Tuhan (Kis. 1:8).

 

Jumlah murid-murid berlipat ganda dengan luar biasa di Yerusalem (Kis. 6:17). Dan sementara mereka menikmati berkat-berkat, Roh Kudus sudah bersiap untuk bergerak lebih lanjut dan menantikan mereka untuk menyebarkan Injil ke seluruh Yudea, Samaria, bahkan sampai ke daerah-daerah lain di dunia. Ingat, Tuhan telah menempatkan orang-orang percaya di daerah-daerah itu . Mereka adalah yang telah menerima Kristus ketika hari Pentakosta di Yerusalem.

 

Tetapi para rasul sibuk dengan gereja di Yerusalem yang jumlah jemaatnya bertambah dengan pesat. Jadi Allah harus mendorong orang-orang percaya untuk bergerak ke luar dari Yerusalem. Ia mengijinkan masalah internal muncul di dalam gereja yaitu keluhan atas pelayanan gereja kepada janda-janda (Kis. 6:1).

 

“Pada waktu itu, ketika jumlah murid-murid bertambah dengan pesat, muncul keluhan dari orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani asli tentang janda-janda mereka yang terabaikan dalam pelayanan harian” (Kis. 6:1).

 

Ketika gereja mulai mengabaikan tujuan semulanya yaitu melaksanakan Amanat Agung, gereja mulai menghadapi berbagai masalah internal. Sebenarnya ini adalah cara Allah berbicara kepada mereka agar mereka kembali kepada misi mereka. Tetapi gereja tidak dapat mendengar suara Allah yang berbicara melalui masalah ini. Bukannya menyadari kelalaian mereka, mereka berusaha menyelesaikan masalah itu dengan  membuat suatu lembaga baru yang disebut: “diaken.”

 

Sebenarnya itu bukanlah gagasan buruk. Pada kenyataannya itu dibutuhkan di dalam gereja. Tetapi pokok masalahnya di sini adalah gereja tidak boleh mengabaikan misi mereka karena mereka terlalu sibuk dengan masalah internal. Kuasa Roh Kudus terlalu besar untuk mengurus urusan-urusan kecil; kuasa Roh Kudus adalah untuk menjadikan orang-orang percaya menjadi saksi-saksi Kristus; menjadi bukti hidup kuasa Kristus dan untuk mengubah bangsa-bangsa untuk menjadi murid-Nya (Mat. 28:19-20).

 

Dan kita melihat, Stefanus dan Filipus, para diaken, mereka tidak (dikisahkan) menjalankan fungsi mereka sebagai diaken, yang bertugas mengurus “urusan meja dan mengawasi penyaluran bantuan” (Kis. 6:2). Kuasa Roh Kudus di dalam mereka terlalu besar untuk hal itu. Pada kenyataannya kita membaca Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, menjadi saksi yang luar biasa bagi Injil Kristus. Ia melakukan berbagai tanda ajaib dan mujizat yang luar biasa di antara orang-orang (Kis. 6:8) dan memberikan kesaksian yang sangat kuat tentang Kristus. Orang-orang (anggota Sanhedrin) yang menentang dia tidak dapat melawan hikmat yang diberikan Roh Kudus kepadanya untuk berbicara (Kis. 6:10). Stefanus – seorang diaken, yang seharusnya mengatur penyaluran sumbangan – memberitakan Injil dengan urapan Roh Kudus sehingga orang-orang melihat wajah Stefanus seperti wajah malaikat (kis. 6:15). Itu sesungguhnya pekerjaan yang ajaib dan penuh kuasa dari Roh Kudus.

 

Akhirnya, diaken Stefanus, menjadi martir. Orang-orang Yahudi membunuhnya. Tetapi sebelum ia melepaskan nafasnya yang penghabisan, ia memberikan kesaksian lain yang luar biasa: Ia meihat Kristus berdiri di sebelah kanan Allah. Yesus berdiri untuk menghormati Stefanus, yang telah menjaga imannya sampai mati, dan Ia menyambut rohnya (Kis. 7:55).

 

“Tetapi Stefanus yang penuh dengan Roh Kudus, memandang ke sorga dan melihat kemuliaan Allah, dan Yesus berdiri di sebelah kanan tangan Allah” (Kis. 7:55).

 

Betapa suatu kehormatan dan keistimewaan yang luar biasa bagi Stefanus. Ia mati secara mulia. Dan sampai nafas terakhir Stefanus masih memegang imannya dan berdoa: “Tuhan Yesus terimalah rohku. Tuhan jangan tanggungkan dosa ini atas mereka!” Dan setelah mengatakan hal itu ia berlutut dan pulang ke sorga” (Kis. 7:59-60).

 

Ini adalah alarm peringatan bagi gereja bahwa di samping kemajuannya yang sangat luar biasa, gereja tidak boleh mengabaikan panggilan utamanya yaitu Amanat Agung. Gereja tidak boleh membiarkan “urusan meja” menghabiskan seluruh energi dan perhatiannya sehingga membuatnya teralihkan dari tujuan utama yang Tuhan telah berikan kepada mereka.

 

Kematian Stefanus memicu penganiayaan yang sangat hebat terhadap gereja di Yerusalem (Kis. 8:1). Tetapi ini telah membawa gereja kembali ke jalurnya: menyebarkan Injil ke Yudea dan Samaria sebagaimana yang Tuhan perintahkan (Kis. 1:8).

 

“Pada hari itu (ketika Stefanus mati sebagai martir) pecahlah penganiayaan hebat terhadap gereja di Yerusalem, dan semua orang kecuali para rasul tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria (Kis. 8:1b).

 

Ketika gereja kembali ke panggilannya, Roh Kudus mulai bergerak dan mendemonstrasikan kuasa-Nya yang hebat. Dan setelah Stefanus meninggal Roh Kudus memakai diaken lain yang bernama Filipus yang penuh dengan urapan. Filipus memberitakan Injil ke satu kota di Samaria. Dan ketika penduduk di kota itu mendengar khotbah Filipus dan melihat tanda-tanda ajaib yang dilakukannya, mereka menerima apa yang diberitakannya dan percaya kepada Kristus, sehingga ada kesukaan besar di kota itu (Kis. 8:4-8).

 

Roh Kudus yang luar biasa dapat memakai orang yang biasa untuk menjadi alat-Nya yang luar biasa. Bahkan Stefanus dan Filipus yang hanya seorang diaken, bukan seorang rasul, yang seharusnya mengurus “urusan meja” dan “mengawasi penyaluran bantuan” telah menjadi penginjil yang hebat. Roh Kudus hanya memerlukan seorang diaken untuk memenangkan jiwa satu kota di Samaria; seorang nelayan yang sederhana seperti Petrus untuk memenangkan 3000 jiwa dalam satu kali khotbah. Tetapi itu belum mencapai kapasitas maksimum kuasa Roh Kudus; masih ada perkara-perkara hebat yang akan terjadi.

 

Setelah Filipus memenangkan jiwa di Samaria, seorang penyihir bernama Simon, yang telah menyesatkan banyak orang di Samaria bertobat dan menjadi Kristen (Kis. 8:13). Tidak lama sesudah itu, seorang pejabat tinggi kerajaan Etiopia menerima Kristus setelah Filipus menerangkan arti Firman Allah yang sedang dibacanya, dan Filipus membaptis dia (Kis. 8:38).

 

Kisah ini berlanjut. Saul yang sebelumnya menganiaya orang-orang Kristen berjumpa dengan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang percaya. Ia kemudian menjadi rasul yang luar biasa, yang kita kenal sebagai Paulus. Melalui Paulus Injil Kristus diberitakan juga kepada orang-orang tidak bersunat (non Yahudi) dan mencapai benua Eropa. Negeri-negeri di Eropa menjadi Kristen dan dari sana Injil diperkenalkan ke semua bangsa di dunia. Dan pekerjaan Roh Kudus akan terus berlanjut melalui kehidupan orang-orang percaya di seluruh dunia sampai akhir zaman.

 

Buku Kisah Para Rasul adalah buku yang terbuka dan tidak memiliki kata penutup, karena Roh Kudus masih mengerjakan pekerjaan-Nya yang luar biasa di bumi. Dan kita, orang-orang percaya, adalah kawan sekerja-Nya. Betapa suatu kehormatan untuk menjadi kawan sekerja Roh Kudus.

 

Roh Kudus melanjutkan pekerjaan Tuhan Yesus di bumi sampai tuntas (sempurna). Sejak pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta di Yerusalem sampai hari ini Ia tetap mengerjakan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui kehidupan orang percaya. Sebenarnya kita adalah bagian kitab tanpa akhir dari Kisah Para Rasul. Kita terlibat dan mengambil bagian dalam penulisan sejarah Kerajaan Allah (sejarah Kekristenan di bumi).

 

Melalui Pentakosta –pencurahan Roh Kudus – sorga dan bumi terhubung: yang supranatural terhubung dengan yang natural. Allah terhubung dengan orang-orang pilihan-Nya dalam suatu persekutuan yang intim ketika Ia mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam orang-orang percaya. Roh Kudus membungkus diri-Nya dengan tubuh-tubuh orang percaya dan menjadikan tubuh-tubuh itu tempat kediaman-Nya (Bait Suci-Nya).

 

Roh Kudus tinggal di dalam orang percaya dengan membawa serta seluruh kekuatan dan kemampuan-Nya (Ef. 2:19-20), dan siap untuk melakukan karya-karya luar biasa Yesus Kristus melalui kehidupan orang-orang percaya. Ia hanya menunggu orang percaya untuk mengambil langkah ketaatan untuk melaksanakan perintah Tuhan Yesus yaitu Amanat Agung; untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Dan kemudian, setelah itu, Yesus akan datang kembali untuk memerintah sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya di bumi.

 

“Dan Injil Kerajaan Allah akan diberitakan di seluruh dunia sebagai kesaksian bagi semua bangsa, dan barulah akan tiba kesudahannya” (Mat. 24:14).

 

 
Please register or login to add your comments to this article.




Newsflash

Mengalami Sukacita dan Keajaiban Natal

Di antara tokoh-tokoh yang mengalami peristiwa Natal di Betlehem, selain Maria dan Yusuf , tidak ada yang mengalaminya secara luar biasa selain para gembala yang sedang menjaga domba-dombanya di padang Efrata (Lukas 2 : 8). Meskipun nama-nama mereka tidak dikenal dan diketahui namun apa yang mereka alami tercatat dalam sejarah di Alkitab. Marilah kita mempelajari kembali apa yang mereka alami dan mengambil pelajaran bagaimana supaya kita juga dapat mengalami berkat dan sukacita Natal yang luar biasa.

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday0
mod_vvisit_counterYesterday0
mod_vvisit_counterThis week0
mod_vvisit_counterLast week0
mod_vvisit_counterThis month1127
mod_vvisit_counterLast month18110
mod_vvisit_counterAll1123945

People Online 0
Your IP: 54.80.247.119
,
Now is: 2018-06-18 16:52



Powered by God Wisdom. Thanks to Jesus and Holly Spirit, All the time.