Terlepas dari Jerat Hutang Print
Written by Ir. David Kurniadi for Pdt. Ervin Harun   
Tuesday, 16 October 2018 01:18

Uang bukanlah sumber kebahagiaan. Sumber kebahagiaan sejati ialah Tuhan Yesus. Uang juga bukan akar kejahatan, tetapi cinta akan uanglah yang menjadi akar kejahatan (1 Tim. 6:10). Uang itu bersifat netral, tidak baik tidak juga jahat, tergantung orang yang menggunakannya. Alkitab banyak berbicara tentang uang dan harta karena uang bisa mempengaruhi hati dan sikap (Maz. 62:11).

 

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Timotius 6:10).

 

Orang tidak mungkin sama sekali terbebas dari hutang. Sesuatu yang kita terima dan nikmati terlebih dahulu dan baru kemudian kita membayarnya sudah termasuk hutang. Kata hutang dalam bahasa Latin adalah credere yang berarti kepercayaan atau trust.

 

Kita tidak akan dapat berhutang jika kita tidak dipercaya dan kita juga tidak akan memberi hutang kepada orang yang tidak dapat dipercaya. Itulah yang menjadi dasar kerjasama dalam bisnis maupun dalam perbankan. Kata credere inilah yang menjadi akar kata kredit.

 

Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta; bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal (menarik kembali perkataan-Nya). Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara (berjanji) dan tidak menepatinya? (Bilangan 23:19).

 

Allah Bapa juga memiliki dan memegang prinsip kepercayaan. Ia dapat dipercaya dalam perkataan dan janji-Nya. Allah selalu memegang janji karena Allah Bapa adalah Pengusaha (Yohanes 15:1). Sebagai Pengusaha Allah Bapa sangat memegang teguh prinsip kepercayaan dan Ia juga menuntut dari kita hal yang sama, yaitu supaya kita juga dapat dipercaya.

 

Orang yang dapat dipercaya (akan) mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman (Amsal 28:20).

 

Jika kita dapat dipercaya maka Ia akan mempercayakan kepada kita banyak perkara, termasuk kekayaan. Kita harus dapat dipercaya ketika Allah mempercayakan kepada kita perkara yang kecil, sehingga Ia dapat mempercayakan perkara yang lebih besar (Mat. 25:21,23). Banyak orang tidak menerima berkat yang besar sebab ia tidak dapat dipercaya ketika Tuhan masih mempercayakan kepadanya yang sedikit.

 

Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu (Matius 25:21).

 

Alkitab sudah mengatakan kepada kita dengan jelas: Jangan kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga (Roma 13:8).

 

Banyak orang terjerat hutang karena ia memiliki pengertian yang salah tentang uang dan salah dalam mengelola keuangannya; ia tidak mempunyai financial management (cara pengelolaan keuangan) yang baik.

 

Pengertian yang salah tentang uang karena menganggap uang atau harta kekayaan sebagai sumber kebahagiaan. Akibatnya orang jadi berorientasi kepada uang alias cinta uang.

 

Cinta uang ditandai dengan keinginan untuk cepat kaya (1 Tim. 6:9). Padahal menjadi kaya itu adalah suatu proses. Memang ada yang posesnya cepat ada yang lambat. Tetapi ada yang ingin cepat-cepat kaya dan tidak mau mengikuti proses yang sesuai dengan kemampuannya. Sikap ini didorong oleh sikap iri melihat orang lain yang lebih kaya.

 

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan (1 Timotius 6:9).

 

Inilah yang menjadi akar kejahatan; orang menjadi gelap mata dan memakai segala cara untuk mendapatkannya termasuk dengan berhutang. Yang paling umum adalah memakai kartu kredit secara berlebihan, memanfaatkan KTA atau kredit tanpa agunan yang bunganya tinggi. Berhutang menjadi kebiasaan bahkan menjadi penyakit atau ikatan.

 

Karena ingin cepat kaya orang nekad memakai cara-cara yang sangat berisiko dan dapat menyeretnya dalam masalah (1 Tim. 6:9).

 

Pengelolaan uang yang jelek juga menyebabkan orang berhutang. Misalnya membeli bukan apa yang dibutuhkan tetapi hanya apa yang diinginkan mata. Sehingga uang dibelanjakan untuk hal-hal yang kurang perlu. Juga memaksakan diri di luar kemampuan untuk membeli barang-barang. Ini dikarenakan orang itu tidak belajar mengucap syukur dengan apa yang dimiliki. Padahal firman Tuhan mengatakan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu (Ibr. 13:5).

 

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13:5).

 

Jangan membelanjakan uang untuk benda-benda yang nilainya menurun, kecuali jika sudah banyak berkelebihan. Istilahnya: jangan beli mobil sebelum punya rumah. Mobil itu harta yang menurun nilainya. Meskipun kita membeli mobil yang baru, tetapi begitu mobil itu kita bawa keluar dari showroom maka nilainya langsung menurun karena sudah berstatus mobil bekas. Nilai mobil akan semakin menurun, sementara nilai tanah selalu naik.

 

Hal yang lain adalah, jika kita telah memberi perpuluhan kita yang sepuluh persen itu (Maleakhi 3:10), tidak berarti kita bisa semena-mena dengan yang sembilan puluh persen sisanya, karena menganggap itu milik kita. Tidak, uang kita adalah seratus persen milik Tuhan: Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu (1 Taw. 29:12). Perpuluhan hanyalah tanda ketaatan. Tetapi jika kita tidak mengelola dengan benar yang sembilan puluh persen sisanya, maka meskipun kita sudah bayar perpuluhan kita tetap susah diberkati, sebab kita tidak bisa dipercaya dengan hartanya Tuhan yang sembilan puluh persen itu. Tetapi jika kita mengelola dengan benar yang sembilan puluh persen, maka kita menjadi orang yang dapat dipercaya oleh Tuhan sehingga Tuhan mempercayakan harta yang lebih besar lagi. Ingat, Allah Bapa adalah Pengusaha, jadi Ia memakai prinsip kepercayaan. Ia mempercayakan harta-Nya kepada kita dan apabila kita dapat dipercaya maka Ia akan mempercayakan lebih banyak lagi kepada kita (Mat. 25:21,23).

 

Jika anda dipercaya Tuhan dengan uang satu juta dan setelah memberi perpuluhan dan membelanjakan anda masih dapat menambung 200 ribu, maka berapakah yang anda akan tabung jika menerima uang lima juta? Kebanyakan orang akan berpikir ia akan menabung tentu saja lima kali lipatnya, yaitu satu juta. Jika kita punya cara seperti itu kita susah kaya.

 

Sebetulnya ketika kita bisa menabung 200 ribu dengan penghasilan satu juta dipotong perpuluhan, maka artinya sebenarnya kita bisa hidup dengan 700 ribu. Nah jikalau kita bisa menjaga level gaya hidup kita di 700 ribu ketika kita berpenghasilan 5 juta maka kita bisa menabung 3,5 juta, atau paling sedikit 3 juta.

 

Tetapi masalahnya adalah ketika penghasilan bertambah kita juga mengubah gaya hidup ke gaya hidup yang lebih mahal demi gengsi, sehingga banyak orang tidak bisa menabung bahkan tekor. Lalu mereka mulai memakai kartu kredit dan hanya bisa membayar cicilan minimum dari tagihan kartu kreditnya, sehingga hutang kartu kredit menumpuk dan akhirnya tidak bisa bayar.

 

Jika sudah begini (terlibat hutang), jangan menghindar dan jangan minta pendeta untuk menengking hutang kita supaya pergi, sebab hutang tidak bisa ditengking tapi harus dibayar. Kita harus berani melepas asset kalau perlu untuk segera melunasi hutang dari pada jaga gengsi tapi hutang tidak terbayar. Orang demikian sombong. Kalau orang kaya sombong itu biasa, tetapi kalau orang punya hutang terus sombong itu sangat menyebalkan. Jika terlibat hutang, bertobatlah dari berhutang dan selesaikan segera. 

 

Jangan berhutang apapun, artinya bukan hanya kita berhutang tapi juga termasuk memberi hutang. Kita juga jangan menghutangi saudara seiman, lebih baik bantu semampu kita tanpa ia harus berhutang kepada kita. Karena jikalau ia tidak bisa bayar hutang hubungan persaudaraan bisa rusak dan ia malah bisa hilang dari gereja.

 

Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang (yang berlagak) bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya (Pengkhotbah 5:3-4).

 

Ekonomi yang bermasalah sehingga berhutang juga dapat disebabkan oleh adanya janji kepada Tuhan yang dilanggar atau nazar yang tidak dibayar. Itu merusak kepercayaan Allah kepada kita. Banyak orang ketika miskin dan susah berjanji kepada Tuhan ini dan itu, termasuk mau beribadah dengan rajin dan setia dan mau melayani. Tetapi ketika mereka sudah kaya dan mapan, bisnis mereka sudah berhasil, mereka tidak memenuhi janji mereka. Mereka sering bolos ibadah dan tidak mau melayani karena sibuk dengan bisnis dan sudah tidak punya tenaga lagi untuk Tuhan. Kemudian mereka mengalami masalah, mulai dari hutang piutang, masalah rumah tangga sampai masalah dengan kesehatannya. Mereka tidak menyadari bahwa itu terjadi karena mereka melanggar janji yang mereka pernah buat kepada Allah. Mereka melanggar kepercayaan yang Allah berikan. Jika itu terjadi tidak ada jalan lain selain segera bertobat dan mohon ampun kepada Tuhan.

 

Memang kita harus menetapkan prioritas yang benar dalam hidup ini. Nomor satu adalah Tuhan (Mat. 6:33). Itu prioritas utama kita yang tidak boleh digantikan apapun. Nomor dua adalah rumah tangga kita, yang ketiga adalah pekerjaan kita dan yang keempat adalah pelayanan. Jangan kita mengabaikan pekerjaan kita dengan alasan pelayanan, itu adalah kesaksian yang tidak baik; kecuali jika anda adalah seorang pelayan penuh waktu (full timer), maka pekerjaan anda adalah pelayanan anda. Tetapi menjadi pelayan tidak selalu harus jadi full timer tetapi yang lebih penting adalah pelayanan full heart atau melayani sepenuh hati. Kita harus mengatur waktu sedemikian rupa sehingga jangan melalaikan pekerjaan dengan alasan pelayanan.

 

Tetapi sekali lagi periksalah apakah ada janji kepada Tuhan yang tidak kita tepati. Marilah segera menyelesaikannya dan mohon ampun kepada Tuhan sebab Ia bersedia mengampuni, dan segeralah penuhi janji tersebut supaya Tuhan dapat kembali mempercayakan kepada kita berkat-berkat-Nya.

 

Yang berhutang (akan) menjadi budak dari yang menghutangi (Amsal 22:7).

 

Hal lain yang sangat penting untuk mencegah kita dari berhutang adalah menyadari resiko hutang. Hutang bukan tanpa resiko. Ukurlah resiko sebelum berhutang dan ukurlah diri kita apakah kita dapat menanggung resiko tersebut. Resiko itu harus menjadi warning dan punishment yang kita harus sadari sebelum kita memutuskan untuk berhutang.

 

Resiko bahwa orang yang berhutang bisa kehilangan kemuliaan Tuhan. Orang yang berhutang tidak bisa tenang (memang ada orang yang muka tebal sehingga walaupun banyak hutang ia bisa terlihat gembira seolah-olah tidak ada apa-apa). Tetapi umumnya, orang normal akan merasa tidak tenang jika berhutang besar, sukacita bisa hilang dari wajahnya dan tindakannya bisa tidak masuk akal, mulai dari mudah marah sampai ada yang bunuh diri. Ia juga tidak bisa memuliakan Tuhan karena ia tidak menjadi kesaksian yang baik. Ia telah menunjukkan cara yang salah dalam mengelola uang dan sikap yang salah yaitu serakah, tidak mencukupkan diri, ingin cepat kaya dan money oriented. Bertumpuknya hutang saja sudah menunjukkan ketidakberkenanan Tuhan kepada dia sebab Tuhan telah berjanji kepada orang yang berkenan kepadanya bahwa mereka tidak akan berhutang (Ul. 28:12) atau meminta-minta (Maz. 37:25).

 

Tuhan akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman (Ulangan 28:12).

 

Hutang bisa merusak nama baik dan menyusahkan keturunan. Orang yang tidak menyelesaikan hutangnya dengan baik akan rusak namanya, baik di hadapan manusia, bank, kolega bisnis dan di gereja. Bukan hanya itu, yang harus menanggung susah dan malu juga keluarga dan keturunannya. Mereka ikut diteror oleh penagih hutang dan menjadi gunjingan. Betapa berat beban anak kita yang tidak tahu apa-apa harus menanggung akibat dari kesalahan kita. Jadi pikirkan ini sebelum berhutang.

 

Nama baik lebih berguna dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas (Amsal 22:1).

 

Hutang juga bisa mempengaruhi kepribadian jadi negatif, mulai dari mudah marah, menipu orang, melarikan diri atau berbagai tindakan negatif lainnya. Kalau sudah begini kita menambahkan kesengsaraan kepada kesusahan sehingga kita semakin sengsara lagi. Jadi pikirkan sebelum berhutang.

 

Nah, ketiga hal di atas harus ditanamkan dalam pikiran kita untuk mencegah kita dari berhutang seenaknya. Ingat suka berhutang merupakan sifat yang harus disingkirkan. Orang kalau sudah mulai berhutang akan senang berhutang dan semakin besar hutangnya sampai mereka masuk dalam masalah. Berhutang akhirnya seperti narkoba semakin lama semakin berani dan akhirnya menghancurkan. Jadi camkan di benak kita resiko di atas supaya kita dapat mengendalikan diri dari berhutang (termasuk di dalamnya menggunakan kartu kredit dan KTA atau kredit tanpa agunan).

 

Bagaimana keluar dari jerat hutang?

 

Yang pertama adalah bertobat dan kembali mencari Tuhan (2 Taw. 7:14), karena hutang bukan sekedar perbuatan tetapi sikap mental, kebiasaan dan ikatan.

 

Dan umat-Ku yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka (2 Tawarikh 7:14).

 

Yang kedua, jangan lari dari kewajiban, karena hutang tidak bisa ditengking tapi harus dibayar. Berdoa minta hikmat dan temui pemberi hutang untuk duduk bersama mencari jalan keluar yang terbaik untuk kedua belah pihak. Jangan menghindar dan jangan membuat janj-janji yang tidak dapat ditepati. Tepati semua janji yang telah diberikan, kalau perlu jual asset yang ada untuk dapat segera melunasi hutang. Jangan ingin tetap bergaya kalau belum dapat melunasi hutang.

 

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas (Matius 5:25-26).

 

Yang ketiga, atur kembali cara pengelolaan keuangan. Prioritaskan membayar hutang secepatnya dan jangan membelanjakan untuk hal yang tidak perlu dan tidak penting. Jangan membeli barang-barang mewah atau mahal sebelum melunasi hutang.

 

Ubah gaya hidup dan belajar berhemat serta hidup dengan lebih sederhana. Kita tidak akan mati karena hidup sederhana, sebaliknya kita akan hidup dengan tenang dan damai sejahtera karena tidak terbebani hutang. Kita akan dapat bersukacita tanpa hutang dan menjadi kesaksian yang baik dan memuliakan Allah. Dan Allah sanggup memberikan kecukupan bahkan kelimpahan kepada kita setelah itu.

 

(Diikhtisarkan dari khotbah bapak Pdt. Ervin Harun/Jakarta)

 
Please register or login to add your comments to this article.